Catatan Reflektif: Not too tight. Not too loose

Halo semuanya ! Kali ini saya mau share sesuatu nih. Saat Umrah kemarin, saya berhasil mencium batu Hajar Aswad!

Hehe, maaf ya kalo terasa memamerkan ibadah. Namun percayalah, ini hanyalah pembuka tulisan saja, karena sebenarnya itu bukanlah inti dari tulisan ini.

Sekilas info mengenai Hajar Aswad. Hajar Aswad adalah batu hitam dekat pintu Ka’bah yg diyakini oleh orang-orang Muslim sebagai tempat yang mustajab utk berdoa. Artinya, di tempat itu doa kita lebih berpotensi utk dikabulkan ( tentu dengan syarat, bila doa itu “baik bagi kita dan baik menurutNya” ). Karena nyatanya tidak semua doa – keinginan – baik untuk kita.

Contohnya ini. Dulu, waktu saya masih jauh lebih muda, saya pernah berdoa supaya bisa berjodoh dengan seorang mantan #eaaa. Bertahun2 kemudian saya merasa malu pernah berdoa seperti itu dan malah bersyukur doa itu tidak terkabul. Jujur saja, kalo dipikir-pikir saya sama dia itu memang engga cocok. Nah, apa jadinya kalo berjodoh? Alhamdulillah. Allah knows best❤

Kembali lagi ke soal Hajar Aswad. Coba bayangkan, saat itu di depan Ka’bah, ADA SAYA diantara sekian ratus orang dari segala penjuru yang ngotot2an, sikut2an, dorong2an, sesak2an supaya bisa berdoa beberapa detik disitu.

Lho, kok tumben? Ikut2an memburu tempat ramai? Biasanya kalo liat tempat rame sedikit aja, langsung mundur duluan? Di supermarket aja liat orang penuh di lorong langsung putar arah? 😁

Iya, biasanya saya memang kayak gitu. Bahkan itu masih terjadi dalam umrah kemarin, saat anak sulung saya terkena cacar air di Madinah. Lewat chat WA saya disarankan oleh kakak laki2 saya ( yg saya anggap sbg pembimbing spiritual ) untuk membawa air zamzam ke Multazam – bagian lainnya dari Ka’bah yg juga mustajab, lihat gambar denah Ka’bah di bawah – dan berdoa disana untuk kesembuhan anak saya.

Tapi saat saya melihat betapa ramenya itu Multazam, beuh, boro2 mau pergi kesana untuk berdoa. Rame banget! Bisa babak belur saya disana kesikut orang2 Arab! Akhirnya saya pun berdoa dari kejauhan saja. Sama saja lah, menurut saya, doa disini atau disana.

Nah, jadi kenapa dong, tiba2 bisa ngotot ke Hajar Aswad yang konon berkalilipat ramenya, dgn orang2 yg lebih ngotot dan brutal dibanding di Multazam?

Itu karena ada faktor X, yaitu ibu saya, yg telah meyakinkan saya untuk melakukannya 🙏🙏

Ibuku

Di perjalanan Umrah ini kami pergi sekeluarga + kedua ibu ( ibuku dan ibunya suami ). Kedua ibu menggunakan kursi roda karena pergelangan kaki ibuku belum pulih sejak terkilir bulan lalu, kalo ibu mertuaku sih cukup sehat tapi kasian juga kalo harus cape jalan jauh. Karena menggunakan kursi roda lah maka kedua ibuku ( plus si sulung yg terkena cacar air yg akhirnya juga berkursiroda ria) harus melakukan prosesi umroh yang sedikit berbeda dengan yang lainnya.

Mereka melakukan Tawaf – berjalan berputar 7x mengelilingi Ka’bah – tidak bersama2 rombongan tapi lewat jalur khusus yg lokasinya cukup jauh dari Ka’bah – yaitu di lantai 3 Masjidil Haram – dan menyewa orang lokal utk mendorong. Begitu juga saat melakukan Sa’i ( berlari kecil 7x di antara bukit Safa dan Marwah ).

Itu membuat ibuku kesal! Mungkin menurutnya “kalo ga cape, ya ga nendang”. No pain no gain. Apalagi Ka’bahnya jadi ga terlalu keliatan. Keinginan beliau, walau pakai kursi roda, tawafnya tetap didekat ka’bah.

Iya, maunya sih begitu, tapi kali itu situasinya tidak mendukung. Ini ka’bah lho, bukan taman yg sepi. Adanya kursi roda di kerumunan ribuan orang bisa menghambat laju, menimbulkan ketidaksabaran orang2 disekitarnya, dan bikin chaos. Intinya, berbahaya.

Beliau tetap bersikukuh ingin tawaf di dekat ka’bah. Maka di lain kesempatan, di salah satu tawaf sunnahnya, beliau nekad kabur, menghilang dari kami. Setelah kembali ke rombongan, beliau cerita beliau turun dari kursi rodanya dan bertumpu pada kursi rodanya sebagai “tongkat berjalan”, dan sukses melakukan tawaf keliling ka’bah! Itu membuat saya dan suami geleng2 kepala, antara kesal, gemas, kuatir, sekaligus kagum. Segitu nekadnya si mama.

Bicara soal nekad, saya dan ibu sangat bertolakbelakang. Ibu saya super nekad dan risk-taker sejati, saya cenderung cari aman. Saya menganggap beliau perlu latihan untuk lebih berserah, dan sebaliknya, beliau juga menganggap saya perlu latihan supaya lebih ngotot. Perbedaan yg cukup sering bikin ribut di rumah, antara tim ngotot vs tim berserah.

Nah, jadi gimana ceritanya, kok bisa2nya “Ibu senior tim ngotot” meyakinkan “Ibu junior tim berserah” untuk ke Hajar Aswad?

Ikuti terus ya. Sebentar lagi kita sampai di bagian itu.

Tawaf Wada’

Pada pagi hari sebelum kembali ke Indonesia, kami berempat – saya, suami, dan kedua ibu kami – berencana utk melakukan tawaf wada’ ( tawaf salam perpisahan pada Ka’bah ). Kami akan mendorong kursi roda ibu masing2 sambil berkeliling di dekat ka’bah. Mumpung masih pagi, kali aja masih sepi. Anak2 tampaknya kecapean, jadi mereka beristirahat saja di kamar hotel.

Ternyata saya salah. Masjidil Haram di hari minggu pagi tetaplah ramai! Penjaga katering di hotel mengatakan kalo weekend penduduk Mekkah dan kota2 sekitarnya pun ikut datang ke Ka’bah. Makanya rame. Banget.

Di Masjidil Haram, kami menuruni anak tangga untuk sampai di Mataf ( dataran terendah, lapangan dimana terdapat Ka’Bah ). Pertama- tama saya membantu ibu saya dulu utk turun sampai Mataf, dan setelahnya ke atas lagi utk membantu ibu mertua turun. Perempuan harus dibantu perempuan lagi. Suami hanya bisa menonton.

Giliran ibu mertuaku, beliau tidak beruntung krn kami keburu diusir oleh ashkar ( petugas keamanan ). Kursi roda tidak boleh turun! Akhirnya kami harus mencari gerbang masuk lainnya yg membolehkan kursi roda turun. Untungnya kami menemukan eskalator yg kursi roda boleh turun lewat situ.

Di kejauhan saya melihat ibu saya kembali menjalankan “aksinya” menjadikan kursi roda sebagai tongkat berjalan dan sudah mulai tawaf sendirian di antara ribuan orang. Ya sudah, saya berserah pada Tuhan semoga beliau kuat dan selamat. Saya dan suami mendorong kursi roda ibu mertua pelan2 dan melakukan tawaf kami sendiri.

Setelah selesai tawaf dan setelah memarkirkan kursi roda ibu mertua di pinggiran Mataf, saya dan suami segera mencari ibu saya di antara kerumunan orang. Akhirnya kami menemukan beliau sedang berdesak2an di ka’bah bagian Hijr Ismail utk berdoa di bawah Pancuran Emas. Lokasi ini sudah sering disebut2 ibu sejak dulu. Katanya, “Mama doain Ujie disini setiap hari waktu naik Haji tahun 1995. Doanya upaya Ujie dapat jodoh yang baik!” ( Hm, baiklah. Doaku saat itu soal jodoh kalah kuat dari doa ibu ).

Kami pun -saya dan suami- ikut berdoa disitu. Diam2 saya merasa bersyukur. Gara2 nyariin ibu, saya jadi punya kesempatan berdoa di Hijr Ismail, tepat di bawah pancuran emas. Alhamdulillah.

Selesai itu, saya dan suami berbagi tugas. Suami membawa kursi roda ibu ke pinggir, saya menuntun ibu. Rencananya sih hanya menuntun ibu kepinggir dan bergabung dengan ibu mertua, sampai akhirnya kami berubah rencana.

Hajar Aswad!

Tiba2 ibu bertanya,

” Ujie tadi udah tawaf?”
” Udah”.

” Udah ke Maqam Ibrahim?”
” Udah”.

” Barusan kita di Hijr Ismail. Sekarang kita ke Rukun Yamani aja. Abis itu ke Hajar Aswad”. ( konon menurut ibu,  cara mengunjungi situs2 mustajab di Ka’bah disarankan seperti itu: Tawaf dulu, lalu berdoa di Maqam Ibrahim – Hijr Ismail – Rukun Yamani – Hajar Aswad )

” Haah? Apa?”

“Ayo kesana! Pasti bisa! Udah disini harus kesana! Kita berdoa disana! Doakan supaya anak2 selamat dunia dan akhirat! Pahalanya ratusan ribu kali dari tempat lainnya! Ayo, Mama temenin!”

Lah, aku yg tadinya mau menemani mama, kok jadi aku yg ditemenin?

Tapi entah mengapa. Disitu semangatku jadi menyala-nyala.

Dan maka itu terjadilah. Ngotot2an dan beberapa kali kena sikut dan jegal orang2 Arab laki2 yang jangkung2. Memang merasa babak belur  ( setelahnya badan sakit2 ) tapi hati merasa tenang karena saya merasa dipandu dan dilindungi oleh ibuku yang juga ada disitu. Aku berserah pada ibuku dan Tuhanku. Hingga akhirnya tanganku berhasil menyentuh Hajar Aswad, dan langsung nyerobot “salim” pada Hajar Aswad.

Konon, ada satu keyakinan yang mengatakan bahwa Hajar Aswad merupakan “tangan kanan” Tuhan di bumi, jadi bila ingin “berjabatan tangan dengan Tuhan”, sentuhlah Hajar Aswad. Bila ingin salim, ciumlah Hajar Aswad.

Untuk sekian detik waktu terasa berhenti. Dalam khusyuk doa dan rasa haru. Dalam keheningan, tercium wangi dari batu itu.

Okey, kita skip saja bagian keluar dari Hajar Aswadnya yah? Cukup yakinlah bahwa apa2 yang “susah masuknya maka lebih susah lagi keluarnya”. Semacam kuliah di ITB gitu lah. Haish.

Setelah selesai, aku pun terpana cukup lama. Kok aku bisa ya? Kayak mimpi.

Ibuku bilang, “Ini baru umroh. Bayangin kalo musim Haji. 2 juta orang di tempat ini. Waktu itu Mama beberapa kali bisa berdoa di Hajar Aswad. Doain si Aa ( kakak laki2 saya ). Percaya ga?”

Percaya. Saya percaya beliau mampu melakukannya.

Ngotot vs Berserah

Sebagai penganut azas “yg sedang2 saja” ala Vetty Vera, saya jarang berdoa secara “spesifik” minta sesuatu pada Tuhan ( kecuali doa ttg si mantan di awal tulisan gara2 sudah desperate haha). Biasanya saya berdoa meminta yg umum2 saja. Selain memohon ampunan dan mengucapkan syukur, saya juga memohon ketenangan, ketentraman, kedamaian, kebahagiaan. Biarlah bentuk spesifiknya Tuhan yg menentukan, kan Beliau yg paling tau aku perlunya apa. Terserah Tuhan saja.

Itu membuat saya relatif tenang dan damai. Ga terlalu banyak keinginan. Ga terlalu banyak berkonflik. Menurut saya itu adalah hal yang sudah cocok dan baik utk saya.

Keberadaan ibu dalam hidup saya sehari2 di rumah sering membuat saya teriritasi. Kok bisa sih, ada orang yg sedemikian banyak maunya, sering tidak puas, suka marah, suka mengungkit masa lalu, suka bercuriga, dan suka mencari2 resiko bahaya?

Tapi merenungkan ibu saat di Ka’bah, membuat saya percaya pada kekuatan hati/tekad. Betapa hebat dirinya untuk hal itu.

Sebenarnya bukan kali itu saja saya menyaksikan beliau keluar dari situasi yg darurat. Beberapa kali beliau meyakinkan saya akan adanya keajaiban dari tekad. Saat keluar dari jeratan hutang, saat kembali menemukan barangnya yg hilang saat Haji, saat selamat dari supir taksi nakal yang ingin menculiknya saat Haji, saat khusyuk mendampingi anak2nya ketika menghadapi ujian sekolah ( ibu akan mengantar dan sholat utk kami di masjid terdekat sekolah), saat “menirakati” satu persatu anaknya yg sedang ada masalah, dan saat mendukung anak2nya satu persatu utk mengikuti “nyanyian hatinya”.

Satu pengalaman yang berkesan untuk saya, yaitu saat ibu membimbing hati saya untuk melewati kedua beringin kembar dengan mata tertutup di Alun2 Kidul Jogja dan lulus! Terlepas dari segala spekulasi saya tentang peranan mahluk halus di tempat itu, itu semata karena doa ibu itu manjur!

Ternyata usaha itu memang harus dilakukan secara maksimal. Baik secara lahir ( fisik ) maupun secara zahir ( batin, lewat doa ). Saat usaha kita sudah optimal maka kita lebih dekat dengan tujuan. Bukankah tidak ada yg lebih disesali selain bila kurang berusaha?Bukankah rejeki pun memerlukan asbab/penyebab untuk terjadi?

Kata suamiku pada anakku, “Kita tidak bisa mengandalkan berserah tanpa usaha. Jangan langsung berserah. Usaha dulu sebaik2nya. Setelahnya berserah”.

Keukeuh itu bisa baik.
Memaksakan diri itu bisa baik.
Berserah itu bisa baik.
Ikut aliran itu bisa baik.
Asal tau batasnya.

Janganlah memaksakan diri yang nekad hingga membahayakan diri sendiri atau orang2 di sekitar. Janganlah berserah yang sebenarnya adalah kemalasan atau kemasabodohan. Seimbanglah. Yang sedang-sedang saja.

Tapas & Santosha

Dalam yoga kita mengenal istilah Tapas & Santosha sebagai bagian dari kode etik disiplin diri ( Niyama ) seorang yogi. Di satu sisi, Tapas berarti kegigihan, kesungguhan, keuletan, pantang menyerah. Di sisi lain, Santosha berarti keberpuasan, ketercukupan, penerimaan, keikhlasan, keberserahan diri. Keduanya tidak bisa dipisahkan, harus saling beriringan utk keseimbangan yang dinamis. Bagaikan kedua sisi mata uang, bagaikan yin dan yang.

Dalam keberserahan ada kegigihan.
Dalam kegigihan ada keberserahan.

Jadi kapan kita harus lebih Tapas atau lebih Santosha?

Tergantung situasinya. Pelajari, dalam situasi itu, apakah saya perlu lebih keukeuh atau lebih ikhlas? Ada situasi yang memerlukan keukeuh dan ada situasi lainnya yang memerlukan berserah.

Ada hadits yang mengena tentang ini, “Berserahlah kepada Tuhan, tapi terlebih dulu ikatlah untamu” yang menunjukkan bahwa usaha dan keberserahan harus seimbang.

Dalam gambaran sehari-hari, itu sama halnya dengan, “Titipkanlah dulu sendalmu ( atau bawalah plastik dari rumah untuk sendalmu ) sebelum Jumatan” atau “Sakuin dululah kacamatamu biar khusyuk shalatmu” atau “Belajarlah dulu habis-habisan, dan berserahlah saat ujian”. Dengan kata lain, berusahalah dulu, berserahlah kemudian.

Ikuti naturemu. Temukan cerminmu

Pengalaman Hajar Aswad itu membuat saya melihat ibuku dengan cara baru. Kita memang berbeda, dan tidak perlu selalu sepakat, tapi ada hal2 baik yg bisa saya pelajari dan tiru dari beliau. Cara beliau berjuang, memotivasi, menyemangati, penuh kekuatan hati, ritual doa, dzikir, puasa yang bisa saya terapkan untuk mendampingi anak2ku. Ibu juga bisa menyeimbangkan keberserahan berlebihan yg bila salah kaprah bisa menjerumuskanku pada kemalasan atau kemasabodohan yang akut. Fatalisme.

Di sisi lainnya, ibuku pun beberapa kali mengatakan bahwa tinggal bersamaku membuat dirinya merasa tentram, karena saya tidak pernah memaksanya untuk melakukan ini dan itu atau menjadi ini dan itu yang bukan dirinya.

Orang yg terlalu let go bisa menjadi lebih gigih.
Orang yg terlalu keukeuh bisa menjadi lebih berserah.

Itu karena Jalan Tengah. Jalan menuju keseimbangan dan kebahagiaan.

Temukan pusatmu.

Not too tight. Not too loose.

( Note: Beberapa foto ilustrasi  adalah koleksi pribadi dan diambil dari google ).

24
Leave a Reply

avatar
12 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
13 Comment authors
Pujiastuti SindhuAriesty deviNeneng Sri MulyaniarPuspitasariDian Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Pitra Moeis
Guest
Pitra Moeis

Selalu teringat, “action in inaction, inaction in action”.
❤️

elis
Guest
elis

Entah kenapa ditengah-tengah hingga tuntas baca, air mata ga berhenti² ehehehe… Terima kasih atas ceritanya, terbawa merasa akan suasana disana 😭

Daaann part ngotot vs berserah duuhh ngena banget 🤗

Vivin
Guest
Vivin

That is so deep teteho. Makasi pencerahannya lewat tulisan ini. Jadi ingat almarhum ibu saya..

Endang
Guest
Endang

Aahh…cakep banget tulisannya. Banyak hikmah, Secara aku orangnya sama ma teteho, kalau rame mlipir, gak suka berebut! Hahhaa! Dan banyak catatan teknis utk umrohku yang berikutnya, Insyaalloh😊

Oci Rosnadewi
Guest
Oci Rosnadewi

Alhamdulillah.. seneng banget bacanya, suasana ibadah yg penuh kekhusuk an yg selalu jadi daya tarik ingin lagi dan lagi ibadah ke tanah suci,. Untuk bisa sampai untuk umroh dan haji aja kita perlu perjuangan antara niat, menyisihkan dana dan mengatur waktu yg pas, pas menurut kita dan pas menurut Allah SWT tentunya, jadi klo kita sudah sampai disana masa mau biasa aja pasti ingin lebih berjuang mendapatkan ridho Allah utk bisa berdoa di tempat tempat mustajabah Nya, air mata pasti jadi bagian dari keberhasilan kita klo bisa sampai dan bisa khusuk berdoa di tempat yg dituju.. bahagiaaa bangeett rasanya.. Pasti… Read more »

Anggie
Guest
Anggie

Setiap membaca atau mendengar cerita perjalanan seseorang umrah atau berhaji, selalu cirambay. Ada rasa terharu dengan berbagai keajaiban di tengah chaos saat ibadah disana. Ada rasa iri karena ingin bisa kesana. Ada sedih dan rindu yang tidak bisa dideskripsikan. Ada bahagia melihat/mendengar pengalaman orang yg bercerita.
Nuhun sharingnya Ujiho..

vigi
Guest
vigi

man jadda wajada ya jie….. ,

Gini Hanafi
Guest
Gini Hanafi

Salam baktos buat ibu yah Cerita yg sangat menginspirasi dan bisa mengubah pandangan orang arti dari berserah dan pasrah Krn sebetulnya orsng boleh berserah dan pasrah hanya pada hasil akhir/ penilaian setelah sebelumnya berjuang maksimal Saat SMP saya sangat ingat dgn petuah guru matematika saya Almarhum BPK Amat Sopan Damiri beliau bilang “Hidup itu harus AMBISI akan tetapi TDK BOLEH AMBISIUS” Makanya saya sering heran dgn orang yg bilang Saya mah hidup mengalir saja seperti air Padahal dia TDK tau artinya yg mengalir di sungai itu HANYA IKAN MATI Bersyukur memiliki ibu seorang fighter sejati Doakan yah saya In Syaa… Read more »

Dian
Guest
Dian

OMG Teh Ujie..spechless bacanya..ga bisa nahan air mata….very inspiratif..keren..dua hal besar yg aq dpt dr tulisan ini..indahnya mendpt doa yg full dr seorang ibu krna seiman..hal yg p aling aq rindukan sbg aq yg mualaf dan ibu ygmsh dgn imannya meski kami saling mendukung dan yakin ibukupun mendoakanku dgn caranya .disini mngkn hanya bs berserah Tuhan Maha Mengetahui..maha Kuasa..smoga doa ibuku utk aq sampai kpdNya.. Hal yg kedua indahnya jika Allah berkenan mengundang aq kesana utk lbh menguatkan imanku..meskipun skr mimpipun ga berani hehe merasa diri msh amat tdk pantas..blm ckp ilmu mngkn ya..tp kun fa yakun ya ga ada… Read more »

Puspitasari
Guest
Puspitasari

Cerita tentang ibu, makah, pasti menguras perasaan haru. Alhamdulillah Ujie sekeluarga menunaikan ibadah umrah dg lancar dan selamat..semoga mabrur buat semua 🤗🙏. Ibu..Ibu..Ibu..amazing yaa..wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, tapi kuaaatnyaa MasyaAllah, kadang smp ngga masuk akal rasanya ☺️. Baca cerita diatas lsg mengingatkan ttg alm mama, yg blm sempat sy balas segala jasa dan upayanya utk selalu membahagiakan anak2nya. Beruntung Ujie msh bisa mendampingi dan didampingi wanita2 yg sangat berarti dl hidup kita. Wanita..lembut tapi stroongg sangaat yeaa..💪❤
Sy ikut doakan ibu dan ibu mertua selalu sehat dan bahagia…🤲
Trm kasih share blognya Ujiie… InsyaAllah selalu bisa kembali ke tanah suci..Aamiin..

Neneng Sri Mulyaniar
Guest
Neneng Sri Mulyaniar

Duhhh, teeeeeh…… Bener2 ini sebuah perenungan yang dalam serta perjalanan spiritual yang mengagumkan. MashaaAllah…. Bahagianya bisa umrah bareng keluarga, orang2 tercinta, anak dan swami serta yang luar biasa adalah dimampukan, diperjalankan Allah untuk sampai ke tempat2 yang mustajab, dan hanya “berdua saja” ibu dan anaknya. Bahagianya teh Ujii…. 💞😊💝 Kelak jika saya sudah setua bundanya teh Uji belum tentu bisa melakukan hal yg sama. Atau bisa merasakan indahnya kebersamaan berdua dengan mama . Kalau menurut saya sih, membaca dari tulisan cerita teteh ini, mama nya betul-betul seorang motivator dan pejuang yang tangguh, kokoh tak tertandingi💪😄👍 (maaf, bukan iklan semen lho… Read more »

Ariesty devi
Guest
Ariesty devi

“Orang yg terlalu let go bisa menjadi lebih gigih dan orang yg terlalu keukeuh bisa menjadi lebih berserah” Aaak teteh next time ke mekkah nya bareng sama aku yah teh 😚😍😄