“Pergilah, Temukan dirimu. Karena di tengah perjalanan kamu akan menemukan dirimu.”
Demikianlah petuah bijak yang selalu saya amini. Dengan bepergian maka kamu akan lebih banyak waktu untuk berdialog dengan dirimu, kamu akan semakin mengenal dirimu, semakin mempererat bonding dan kekompakan, antara kamu dengan dirimu sendiri.
Ini berlaku untuk segala jenis perjalanan. Dengan atau tanpa sepeda, seorang diri, berdua, atau beramai-ramai.
Seni Bepergian
Bila kamu bepergian seorang diri, kamu akan berhadapan langsung dengan dirimu dan dunia, dan itu menegangkan! Beberapa orang menganggap Solo Traveling membosankan ( atau justru menakutkan ) karena tidak ada teman mengobrol. Beberapa orang lainnya menganggap ini sebagai me time yang berkualitas. Tidak ada yang salah, beda selera saja.
Bila kamu bepergian berdua atau beramai2, maka kamu wajib menjaga keselarasan – kekompakan – dengan para pejalan lainnya supaya bisa sama2 nyaman dan tidak berkonflik. Karena konflik di tengah perjalanan sangatlah nyata. Seperti cerita dari seorang teman tentang petouring sepeda pemula yang kewalahan mengikuti ritme teman2nya yg lebih cepat. Mereka pun saling memendam kekesalan, yang pada satu waktu saling meledak, akhirnya ngambek2an.
Sebagai seorang ibu, tentu saya familiar dengan setting perjalanan beramai2 ini. Seperti saat Umroh bulan Oktober lalu. Dalam perjalanan ini sebenarnya posisi saya adalah co-pilot (yg seringnya jadi pilot beneran karena sedikit2 “terserah mama aja”). Atau saat ziarah Wali Songo keliling Jawa di bulan November lalu dimana posisi saya menjadi bagian dari jamaah/kelompok yang harus patuh pada aturan kelompok. Beda posisi, beda cara menyesuaikan diri.
Solo & Duo Traveling
Begitu pun bila bepergian seorang diri atau berdua teman perjalanan. Seperti yang baru-baru ini dijalani, saat saya ibarat “menang lotere” berangkat ke US. Saat membuat tulisan ini, saya masih berada di perjalanan pulang ( OMG, saya baru menyadari kalo dalam beberapa bulan ini saya melakukan traveling setiap bulan!).
Dalam perjalanan ini saya berangkat seorang diri sebagai solo traveler, transit beberapa hari di beberapa negara, dan di tempat tujuan bertemu dengan adik saya, lalu kami menjadi duo traveler yang kemana-mana saling menyelaraskan ritme agar perjalanan tetap nyaman dan bonding tercapai.
Jaga Kesabaran
Kunci nyaman traveling bersama teman atau kelompok hanya satu, jagalah kesabaran. Itu juga yang sering diingatkan sebelum berangkat Umroh. “Mesti banyak2 sabar, karena Umroh atau Haji suka banyak cobaannya.”
Nyatanya, tidak hanya perjalanan Umroh saja yg diuji, perjalanan bukan Umroh pun banyak ujiannya! Terutama ujian ketahanan fisik yang biasanya menjadi jalan masuk ujian-ujian lainnya. Alasannya, kalo fisik cape akan berpotensi membuat pikiran dan emosi cape juga, hingga mudah teriritasi dan sumbu pendek. Capek, deh!
Oleh karena itu saat ada yg menasihati, “Baik2 ya saat di Amrik. Yang sabar”. Dengan berkelakar saya jawab, “Gapapa. Anggap aja lagi Umroh.” 😁
Emang ada apa sih saat Umroh, kok kayaknya heboh amat? Ya macam-macam lah. Ini dan itu, lalu itu dan ini. Mulai dari ngedadak H-1 disuru bikin dokumen berbayar mahal yang sama sekali ga ditanyain di imigrasi mana pun, dorong2 kursi roda yg berat ( Mekkah banyak tanjakannya, bo! ), anak kena cacar air, kehilangan barang berharga, kena flu karena kecapean, sikap orang2 Arab yang ajaib, dan lain-lain yang aselik potensial bikin bete kuadrat!
Mengantisipasi Masalah
Untuk mengantisipasi kekesalan, saya harus mampu melampaui pikiran saya yg maunya serba enak dan ideal terus. Saya tidak boleh egois, harus meniadakan maunya saya, dan mendahulukan orang-orang lain yang bersama saya. Saya harus menerima -secara radikal bahwa segala hal, nyaman tidak nyaman, memang layak saya alami. Kudu Ikhlas! You deserve it!
Lalu pikiran saya jadi sewot, “Enak aja kudu ikhlas! Layak dari Hongkong??”
Layak! Karena kamu sudah secara sadar memilih utk berada disitu, dengan segala resikonya yang belum kamu ketahui. Memangnya kamu pikir engga akan diberi ujian? Memangnya kamu pikir untuk mabrur bisa semudah itu?
Begitu pun dalam perjalanan-perjalanan lainnya, baik traveling jalan-jalan biasa maupun traveling kehidupan ( bukankah hidup juga adalah perjalanan?). Kita harus siap menghadapi segala hal yg tidak terduga.
Sikap Yang Tepat
Jalani setiap perjalanan dengan sikap yang tepat, yaitu sabar, mengalah dan ikhlas. Sikap itu akan menghubungkanmu dengan “Dirimu yang lebih tinggi”, yaitu dirimu yang bijak dan penuh pengertian, yang kamu pun akan jatuh cinta bila menemukannya dalam dirimu pada kondisi itu. “Siapa” lagi itu, selain Sang Maha Penyayang yang mengisi hatimu?
Untuk terhubung dengan-Nya, hatimu adalah portalnya. Hati harus bening, jernih, terbebas dari ketegangan. Ketegangan adalah penyebab segala ke-error-an! Hati yang bening tidak akan mampu menahan ketegangan, dan sebaliknya, tidak ada pula ketegangan yang mampu menguasainya.
Bagaimana Menjaga Kebeningan Hati?
Hati perlu dibersihkan sesering mungkin dengan rajin mengunjunginya dan mengosongkannya dari sampah- sampah emosi ( bisa juga lewat ritual-ritual keagamaan, tapi pastikan anda melakukannya dengan penuh penghayatan ). Juga, dengan merawatnya lewat pola pikiran yang berkesadaran, yaitu:
- Berpikiran terbuka
- Sabar
- Antusias ala “beginner’s mind”
- Optimis
- Menikmati proses
- Mau mengalah
- Menerima dan berserah
Semua hal itu kita temukan dalam aktivitas bepergian.
Menemukan Diri Yang Baru Saat Bepergian
Bepergian adalah momen kesendirian yang penuh perenungan. Bepergian sejatinya adalah yoga in action. Sendirian, berdua, beramai2, jauh, dekat, dengan sepeda, pesawat, kereta, bis, motor, jalan kaki, tidaklah masalah. Bepergian menjadi waktu berkualitas untuk kembali menyegarkan pikiran dan jiwamu, dan untuk terhubung dengan orang-orang terkasihmu. Waktu untuk memunguti ilham dan inspirasi yang berhamburan di sepanjang perjalananmu. Perjalanan yg akan meleburkan dirimu yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Diri yang kembali segar, bahagia, dan bersemangat juang.
Pergilah, bersatulah kembali dengan Dirimu Yang Lebih Tinggi!
Selamat tahun baru 2020.
Satu lagu pendek dari apartemen adikku Canon in D major
Note: Temukan cerita2 pendek dan foto travel blog Kuala Lumpur – Guangzhou – New York via:
Late Arrival KLIA https://www.instagram.com/p/B6ZiuSlg_mg/?igshid=djjfrspfpzuj
Baiyun Airport Guangzhou https://www.instagram.com/p/B6et84OgSmn/?igshid=12qbkc2qwl9qv
Kuala Lumpur https://www.instagram.com/p/B6fqWfLAlyo/?igshid=1u5psi0nlst2y
Guangzhou https://www.instagram.com/p/B6f7Sp9gfM_/?igshid=lrfhgfmlu91j
St. Thomas Church NYC https://www.instagram.com/p/B6gBdT3gBwH/?igshid=1hq2ro807998s
New York rasa Bandung https://www.instagram.com/p/B6giQsYAjGI/?igshid=6fgiorinar18
Harlem Series NYC https://www.instagram.com/p/B6kF9Spg7ej/?igshid=17r74o7o9h9kp
Central Park Series NYC https://www.instagram.com/p/B6k6vnBgHjn/?igshid=gkxmjigoizp
Public Library, Bryant Park & Citi Bike Series https://www.instagram.com/p/B6lMHd5ATwr/?igshid=f6b3nkwn4qjc
Grand Central Station & Ferry Staten Island ( Patung Liberty! ) Series NYC https://www.instagram.com/p/B6mCetVAQur/?igshid=1hpl8cp71c1r9
Carrie Bradshaw’s Apartment Series https://www.instagram.com/p/B6mFxywAuFQ/?igshid=4srvi2hu09t
High Line, Lincoln Center, Broadway Series https://www.instagram.com/p/B6pxpYfAaW6/?igshid=lk34iomg04ro
The Met ( The Metropolitan Museum of Art ) Series https://www.instagram.com/p/B6uJj0vAjBR/?igshid=odqygo0pkqib
WTC 9/11 Memorial Monument, One World Center, Brooklyn Bridge, China Town Series https://www.instagram.com/p/B6vR8quAYHB/?igshid=i46hyxcur4g8
New Years Eve in Brooklyn Bridge Series https://www.instagram.com/p/B60n9DaAZ-Q/?igshid=1xh67cvmay1w9
( Boston & Cambridge Trip belum diupload. Follow akun IG @pujiastutisindh bila anda tertarik mengikutinya ).
Bila anda menyukai tulisan semacam ini silakan kunjungi blog lainnya:
Catatan Reflektif: Not Too Tight, Not Too Loose
Bike Wisdom: Make Peace Great Again
Senengnya yah jalan2 emang pasti seneng lah kalau jalan2 next kalau mau jalan bawa sepeda ajak2 yah
Hayu teh! Dalam waktu dekat mau k Singapur sih, ada acara Ziarah Ulama di Singapur. 25 Januari 2020. Abisnya jalan2. Bawa anak sih dan ga bisa bawa sepeda tapinya. Sepedaan mah di Bandung aja sekarang mah.
“Pergilah, bersatu dengan Dirimu Yang Lebih Tinggi”, love this line Teteho…
Thoughtfull!
Farid! Nuhun udah mampir. Pasti dirimu pun familiar dengan sensasi pikiran “hening dan melebur dengan segala hal yg menghadirkan damai dan bahagia” saat traveling dan sepedaan. Itulah Diri Kita Yang Lebih Tinggi!
Ada seni menulis, ada seni membaca.. Setiap kali saya membaca tulisan Teteho, pikiran saya melayang hanyut dalam cerita, mencari dalam diri sendiri, melihat kedepan, kebelakang dan diam di saat ini. Senang sekali bisa menemukan seni membaca yang indah melalui tulisan Teteho 🤗🙏 #lanjutken
Senang sekali membaca komen ini. Terima kasih atas apresiasinya ya teman. Hugs 😍🤗
absen teh…wkwkwk…thanks a lot for the story
Yuhuu traveler! Nuhun sudah mampir
well thought well said and written… makasih perenungannya
Nuhun Arra sudah mampir 🤗
Hatur nuhun pisan, Teteho 🙏 utk catatan reflektif nya 💖💖 #pengingat #penyemangat #penguat
Semangat terus mbak! Love
Jadi berpikir, kalimat “Kamu mainnya kurang jauh” bukan menitikberatkan pada destinasi (semata) melainkan journey, perjalanan itu sendiri. Perjalanan yg dituliskan dengan elok dan bergizi oleh Teh Ujie. Nuhun ya, Teh. Selamat datang kembali di Bandung dari saya yang pas TTC Yoga Leaf bisa jalan-jalan ke Indomaret sebelah saja rasanya luar biasa bersyukur. Hehehe. Love 💙
Liaa .. karena segala2nya mahal disana jadi g bisa ngoleh2in apa2 selain cerita doang xixi. Lia yg saya kenal juga pintar memunguti simbol dan makna kok. Ayo kita bikin acara ngobrol2 + musik tea bulan2 depan. Love!
“Pergilah..bersatulah kembali dengan dirimu yang lebih tinggi” teteeeeh hatur nuhun pisan tulisannya, seperti biasa sangat Luar Biasa 💖💖💖
Ayo.. jangan kurang piknik 😁😁