Sikap Syukur

Saya paham bumi sedang membersihkan dirinya.

Saya bersyukur dengan kenyataan bahwa jalanan menjadi lebih lengang, sungai lebih jernih, langit lebih bersih. Sesuatu yang bahkan engga kebayang bagaimana solusinya akhir tahun lalu.

Saya bersyukur dengan kenyataan bahwa saya bisa bersama keluarga selama 24 jam. Saya bersyukur suami tengah berada di rumah ( bukan tengah bekerja di luar kota) saat ada pemberitahuan untuk work from home dan social distancing.

Saya bersyukur jadi bisa masak sedikit2 aja mah ( nuhun cookpad dan grup masak ) jadinya bisa masak setiap hari 😁 saya senang anak2 antusias pada masakan ibunya.

Saya bersyukur jadi sering cuci piring dan beberes, kan lumayan tuh ada pembakaran kalori. Saya bersyukur belanja bensin jadi irit ( juga ke kafe dll ). Kami kembali ke jaman dahulu bahwa masakan ibulah yg terbaik dan dinanti2. Aye!

Saya bersyukur anakku yang besar sudah tuntas cacar air – DBD – dan Gastroenteritisnya. Ia kehilangan waktu sekolah dan bimbel 3 bulanan. Saya meyakinkannya untuk tetap yakin kalo diberi cobaan begitu biasanya Allah akan memberi kemudahan. Kalo pun engga, ya kitanya saja yg melonggarkan ekspektasi. Di kemudian hari kami bersyukur, UN nya ga jadi 😁

Saya bersyukur bahwa sebenarnya hidup sudah slow down untuk saya sejak awal tahun. Saya engga banyak rencana pekerjaan di tahun ini, jadi saya ga punya banyak utang pekerjaan, sehingga bisa lebih santai kalo mau cuti. Sempat punya resolusi mau persiapan kuliah lagi, di Jatinangor atau di Depok. Tapi berhubung si “negara api” ini menyerang, saya jadinya banyak daftar online course ini dan itu sampai akhir tahun. Asik juga ternyata.

Saya bersyukur sempat beberapa kali dikasih jalan2 sebelum wabah ini menyebar ( bahkan berada di kota di Cina yang disinyalir sudah ada virus tersebut di tanggal 23 Desember 2019 ). Dan saya bersyukur kami sekeluarga sudah diberi Umroh akhir tahun lalu.

Saya bersyukur virus ini gejalanya tidak sehorror Ebola 🥵 ( walau flu yang bisa bikin orang meninggal juga horror sih ). Tapi saya bersyukur bahwa tingkat kesembuhannya tinggi dan kebanyakan orang yang imunitasnya bagus bisa sembuh. Bila ada gejala saya akan mengisolasi diri ( biarkan hanya yg kritis yg dirawat di rumah sakit ). Makanya, stay at home itu penting, agar kurvanya cepat turun.

Saya turut berduka dengan jumlah penderita yang meninggal karena Covid19. Tapi saya bersyukur untuk percaya bahwa umur saya sudah ditentukan, dan akan selesai dimanapun, kapanpun, dengan cara apapun, sesuai dengan rencana. Tidak akan ada kesalahan dalam hal itu. Jadi bila itu terjadi, memang itulah jalannya.

Dan lain2nya. Dan lain2nya. Lebih banyak yang bisa disyukuri.

Mari tetap tenang sambil menunggu situasi membaik. Menunggu di rumah dan melakukan yang masih bisa dilakukan.

Sampai bumi selesai beberesnya. Kalo udah beres, jangan diacak2 lagi ya!

Bolehlah berbagi disini tentang momen syukurmu?

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of