Persaingan Yoga

Yoga kini semakin semarak di tanah air. Kelas yoga ada dimana-mana. Tidak hanya kelas yoga, tetapi event yoga, festival yoga, workshop yoga, dan pelatihan pengajar yoga pun semakin banyak. Bahkan, asosiasi2 pengajar yoga pun mulai bertumbuh di tanah air.

Yang cukup menggembirakan, geliat yoga di Indonesia diramaikan oleh “pemain-pemain” yang juga asli orang Indonesia. Kiprah pengajar yoga asing tidaklah sebanyak sebelumnya ( katakan di antara kurun 2010-2015 ). Sehingga engga berlebihan bila disimpulkan yoga Indonesia adalah tuan rumah di negerinya sendiri.

Kebanyakan masyarakat antusias dengan yoga yang diajarkan oleh instruktur lokal karena instruksi dalam bahasa Indonesia lebih mudah untuk dipahami. “Ra mudheng”, kata seorang teman tentang kelas yoga yang dibawakan orang asing dalam bahasa Inggris. Walau pun ia paham bahasa Inggris, tentunya lebih rileks bila disampaikan dalam bahasa ibu.

Tidak hanya soal bahasa, tapi juga cara dan kebiasaan orang Indonesia. Di sini, semangat komunitas dan silaturahmi ( plus gotong royong dan seneng becanda ) sangat kuat. Sehingga workshop dan pelatihan yoga yang seharusnya tenang dan damai justru terasa hangat dengan candaan dan derai tawa. Satu hal yang mungkin tidak anda temui bila mengikuti kegiatan yoga di luar Indonesia. Heboh dan berisik! tapi itulah uniknya Indonesia.

Keunikan ini juga terasa dari setiap sekolah yoga dengan “warnanya” masing2. Secara sederhana, ciri khas ini muncul dari idealisme pendiri sekolah. Aura itulah yang akan menarik orang2 yang ‘sefrekwensi” untuk mendekat bergabung. Dengan banyaknya pilihan warna, seharusnya jadi lebih mudah untuk memilih. Bila ternyata tidak cocok, tinggal mencari tempat lainnya yang sesuai selera. Sesederhana itu.

Analogi Warung Soto

Ibarat rumah makan, semakin khas yang dijual maka semakin spesifik orang2 yang datang makan ke situ. Sisi terangnya, pemilik rumah makan tidak perlu repot menyediakan semua jenis makanan, dari semua tempat, dari semua daerah, di seluruh dunia. Jadi dia bisa fokus hanya pada jenis makanan yang ia jual saja. Semakin spesifik, bisa semakin otentik.

Ini akan memberikan peluang untuk eksplorasi lebih dalam di bidang itu saja. Di sisi lain juga membuka peluang kerjasama dengan tempat lainnya ( memberi referensi/rekomendasi ) yang menyediakan produk yg tidak dia sediakan.

Contoh kasus: tukang soto jadi bisa merekomendasikan pembeli ke tempat jualan sate anu, karena dia hanya jualan soto saja.

Orang yang ngefans sate ga akan mau dipaksa makan soto, juga tidak perlu diintimidasi kalo ternyata hanya mau makan sate ( walau pun bagus juga kalo dia sekali-sekali mencoba makan soto, supaya ga terlalu fanatik makan sate ).

Nah, lalu gimana kalo tiba2 tukang satenya jualan soto juga selain sate? Boleh ga?

Ya boleh lah. Kalau memang mampu ya silakan. Toh belum tentu seenak soto buatan sayaa hahaha ( kata tukang soto yang ge er ).

Nah kalo ternyata sotonya enak juga gimana dong?

Munculkan ciri khas yang akan membedakan warung soto yang satu dari yang lain. Tingkatkan juga fasilitas dan kualitas pelayanan. Gali kreativitas agar tetap bisa bersaing.

Katanya sih, keep innovating, so you dont have to worry about competition.

Katanya lagi, rejeki sudah ada yang atur.

“Ia yang mengatur” itu lah yang sudah menggerakkan hati demi hati untuk masuk ke warung soto tertentu, walau pun warung-warung soto itu saling berdempetan, atau misalnya warung soto yang lain secara demonstratif memanggil “sotonya kakak!”. Atau pas datang kesitu sotonya sudah habis. Atau misalnya ga jadi makan di warung itu karena yg jualan lagi sakit, jadinya pindah makan ke warung lainnya. Dan lain-lain.

Selalu ada jalan untuk didatangi rejeki yang di luar dugaan. Usahakan semampunya dan berdoa utk rejeki yang tidak diduga, dan serahkan sisanya pada Yang Mengatur Rejeki di dunia.

Demikian. Semoga analoginya pas, dan bisa menemukan benang merah di antara analogi yoga dan warung soto.

Karena intinya memang itu-itu saja.

( Foto: Yoga Leaf Center. 2013. Dari Facebook Memory )

10
Leave a Reply

avatar
5 Comment threads
5 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
6 Comment authors
Pujiastuti SindhuIna FebrianySiti Rosidah YosyReniNeneng Sri Mulyaniar Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Diah
Guest
Diah

TERBAIK !!! sajian di warung Teteh yg lengkap tapi pun tak pernah menutup warung yg lain, bahkan selalu support …β™‘β™‘β™‘ sehat” Teteh sayang, supaya terus bisa tebar kebaikan dan kemanfaatan

Neneng Sri Mulyaniar
Guest
Neneng Sri Mulyaniar

Teeh… MashaaAllah, selalu menyehatkan memang, setiap tulisan yg dihidangkan Teh Uji mah… Toppp abiss… Menulis dg hati, maka sampainya juga ke hati β˜ΊπŸ˜‰πŸ‘ŒπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸŒ· Terus menebar energi positifnya ya Teh, biar kami makin berwawasan, dan tertular nilai-nilai positifnya yg terus mengalir, seperti mata air , dan memberi karya2 terbaik khususnya bagi perkembangan yoga di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri melalui sentuhan teh Uji lah saya sekarang punya “nyali” untuk mengepakkan sayap memulai hal baru yg sebelumnya tidak pernah bermimpi membuka sebuah “wadah” bagi anak2 yg ingin berolah tubuh melalui yoga. Namun dengan berjalannya waktu, terasa ada “panggilan” sangatlah tidak elok jika ilmu… Read more »

Reni
Guest
Reni

Awal mengenal yoga adl dari baca buku ttg yoga yg teteh tulis. Suatu ketika setelah mendapat kesempatan buat menimba ilmu di yoga leaf & bertemu lsg dgn teteh Puji, Subhannallah, saya kagum. Pribadinya yg sederhana, ramah, humbble & cantik alami, mengajar dgn penuh kasih, keikhlasan & kesabaran, membuat saya nyaman & mudah menyerap ilmu yg diberikan. Semoga ilmu yg saya dapatkan dri teteho di yoga leaf, bisa terus saya tularkan & kembangkan kepada yg membutuhkan & menjadi amalan jariah (amalan baik yg tidak terputus ) buat teteho.amiiin semangatt ya teh.nuhun.😊

Siti Rosidah Yosy
Guest
Siti Rosidah Yosy

Sangat menginspirasi, slalu memotivasi untuk yang baru seperti kami agar tetap dapat optimal di bidangnya masing2. Nuhun teteh

Ina Febriany
Guest
Ina Febriany

Teh Uji, salam kenaaaaaal teeh. Sungguh ingin ikut kelas teteh πŸ˜­πŸ™