Catatan Reflektif: Kontemplasi Pasca Umrah

Perjalanan Umrah adalah perjalanan kontemplasi hati.
Perjalanan Umrah adalah perjalanan kontemplasi hati.

Hari ini 1 tahun lalu. 5 Oktober 2019.

Bersyukur kami sekeluarga ( termasuk mama + ibu mertua ) diberi kesempatan Umrah sebelum negara api corona menyerang. Jadinya di perjalanan pun santai, jajan beli makanan di manapun, dan ga parno kalo liat orang batuk. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kontemplasi yang merangkumkan perjalanan tersebut, dan efeknya bagi perkembangan jiwa kami saat ini, khususnya individu-individu yang terlibat dalam tulisan ini.

Itu adalah ibadah Umrah kami yg pertama, sebelumnya ga tau kenapa tidak/belum tergerak untuk berangkat Umrah. Diniatkan khusus untuk mendoakan si sulung yg mau menghadapi UN tahun depannya ( 2020 ). Biar dia tenang, diberi kekuatan, ketabahan, dan kemampuan menjalani. Perkara mau dimasukin ke sekolah mana, itu terserah Allah saja. Pasti ada jalanNya di depan yang kita belum tau. Jalan yang terbaik utk kakak.

Jadi ini adalah cerita tentang Kakak, anakku yang sulung

Awalnya kakak ga rela berangkat Umrah. Selain karena dia sibuk sekolah seharian ( pk. 07.00 – 15.30), dia pun bimbel 3x seminggu sepulang dari sekolah, belum lagi ada pemantapan di sekolah, plus tugas2 sekolah lainnya.

“Jangan taun ini lah Umrahnya, aku takut ketinggalan pelajaran”, katanya.

Tapi kami pun tetep berangkat. Bismillah aja, ya kak.

Dan kami pun berangkat.

Jatuh Sakit di Madinah

Saat di Madinah, tiba-tiba kakak demam. Ternyata kena cacar air. Kemungkinan sih kenanya di Indonesia, karena virus cacar air perlu waktu 7 hari utk inkubasi. Dugaan itu diperkuat lewat info dari ortu teman-teman sekolah kakak bahwa di Bandung memang sedang ada wabah cacar air.

Jadilah sisa hari ibadah di Madinah ( dan sepanjang kami di Mekkah ) kakak diisolasi di kamar. Kakak baru keluar kamar saat prosesi umrah di Masjidil Haram, itu pun sewa kursi roda +jasa pendorongnya, dan tidak mengenakan baju ihram ( pake baju koko lengkap saja, soalnya cacar air menular lewat udara). Menurut ustadz pembimbing kami, tidak apa2 – tetap sah Umrahnya – karena darurat.

Jangan tanya repotnya kayak apa Umrah bawa anak sakit dan dua ortu ( yg juga kursi rodaan krn udah ga kuat jalan jauh ). Tapi kalo udah begitu sih ya ‘pasang badan’ aja, kudu siap, da kumaha deui 😁 Sambil dikit2 ngingetin kakak, hatinya mesti ikhlas menjalani Umrah. Mungkin ini adalah teguran krn sejak awal kakak ga ikhlas berangkat umrah. Sing ikhlas ya kak. Sing tabah.

Bolak-balik Rumah Sakit

Selesai Umrah dan tiba di tanah air, kakak masih belum kering bekas2 cacarnya, sehingga perlu isolasi lagi ( artinya ga sekolah lagi ) selama 2 minggu. Tambah stres lah dia krn total jadi sebulan gamasuk sekolahnya. Tambah ketinggalan pelajaran. Tapi mau gimana lagi, kan kalo sekolah pun malah jadi bahayain temen2nya yg blm kena cacar. Kakak pun akhirnya pasrah bisa menerima utk nunggu sampe sembuh. Alhamdulillah. Setelah kakak sembuh, giliran adek ketularan cacar dari kakaknya dan harus isolasi. Hm.

Setelah itu, kakak masih harus menjalani 3x lagi opname di RS ( karena Demam Berdarah, gastroenteritis, dan biopsi karena pembengkakan kelenjar getah bening di dagu ). Jadi total ga masuk sekolah 3 bulan. Semakin putus asalah dia karena banyak sekali ketinggalan pelajarannya. Terlihat down dan sedih.

Di waktu seperti itu, aku tidak mau menekan dia. Aku bilang, ” Kakak yang sabar ya, jalanNya memang seperti ini, harus menerima. Kakak fokus aja supaya UN lulus. Ga usah lah mikirin kuliah. Taun depan aja kuliahnya gapapa. Masih muda kan. Sekarang kakak yg tenang ya, banyak dzikir, banyak mohon ampunan, dan tetap yakin sama Allah. Biasanya, kalo kita dikasih ujian terus2an kayak gini, kita akan dikasih hadiah besar. Ga tau apa. Yang sabar ya nak. Pasrah. Ikhlas”.

Merasa tidak ada tuntutan dari ibunya, kakak pun lebih tenang menjalani penyembuhan. Setelah opname yg ke-3x nya di awal April – sudah masuk masa pandemi – kakak pun sehat kembali, sampai hari ini. Alhamdulillah.

“It's your road, and yours alone. others may walk it with you, but no one can walk it for you.” ― Rumi
“It’s your road, and yours alone. others may walk it with you, but no one can walk it for you.” ― Rumi …. And that road, it becomes my road too, and mine alone. No one may walk it for me. And so is your father, sister, grandma, all the people around you. So magnificent, isn’t it? To know our road influence others that much and deep?

Menuai Kebaikan

Selain kesehatan kakak yang semakin baik, bonus2 lain pun datang. UN 2020 dibatalkan. Kelulusan SMA angkatan 2020 hanya berdasarkan nilai US ( Ujian Sekolah ) via online yang dirasakan cukup mudah tidak seberat UN. Kakak pun lulus SMA, wisudaan SMA, secara mudah dan engga kerasa 😁😁

Bonus tambahan. Dari 3 ujian masuk kuliah yang diikuti, kakak lulus di 2 ujian ( Ujian Masuk Arsitektur Unpar dan Ujian Saringan Mandiri FSRD ITB. Ujian SBMPTN dengan jurusan pilihan Arsitektur ITB tidak lulus). Ini ibarat menang double jackpot! Tidak mungkin bisa terjadi bila hanya mengandalkan kemampuan sendiri, yang kurang persiapan dan kurang kemampuan seperti dituliskan di atas. Kami pun larut dalam keharuan dan sujud syukur. Tidak mungkin terjadi bila tanpa pertolongan-Nya.

Sesudah kesulitan ada kemudahan ( QS Al Insyirah 5-6 ). Saya menganggap ini adalah janjiNya yang saya tagih dalam doa2ku. Lho, kok sama Tuhan nagih janji? Kok berpamrih? Ibadahnya kok kayak yg engga ikhlas?

Tapi mengapa tidak? Bukankah IA adalah Yang Maha Kaya, Maha Penyayang, Maha Kuasa? Bukankah IA senang bila dimintai pertolongan? ( QS Al Fatihah: 4 ). Mengharapkan pertolongan dan bantuanNya bukanlah pamrih, tapi semata-mata karena diri sadar sebagai mahluk yang lemah, yang tidak berdaya kecuali dengan pertolonganNya. Asalkan kita engga ikut2an ngatur ditolongnya mesti dengan cara apa dan bagaimana. Kita hanya memohon jalan yang terbaik, yang sesuai pilihanNya. Jalan Lurus.

Harapkan Jalan Keluar Yang Tak Terduga

Dan setelah diberikan 2 pilihan yang sama2 bagus, kami pun kembali bingung mau pilih yg mana. Kembali lagi minta petunjuk lewat Sholat Istikhoroh. Meminta petunjuk utk pilihan yang paling memberi kebaikan untuk kakak di masa depan.

Untuk teman2ku yang membaca ini dan tengah mengalami kesulitan, ayo perbanyaklah berkontemplasi, mendekat padaNya. Yakinlah bahwa kesulitan itu berasal dariNya  sebagai ujian. Begitu pun kemudahan.

Solusi akan datang saat harapan pada mahluk terputus.

Surrender.

Cek Vlog Umrah kami:

Bila anda suka tulisan serupa, silakan klik link ini:

 

Catatan Reflektif: Jangan Biarkan Apapun Memilikimu 
Catatan Reflektif: Pergilah, Temukan Dirimu
Catatan Reflektif: Not too tight. Not too loose

Link sesi yoga dan meditasi bersama Pujiastuti Sindhu klik disini

Jadwal kelas yoga online klik disini

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of