Kontemplasi Diri: Aku & Objek-Objek Kemelekatanku ( bagian 10 )

Dibandingkan tulisan-tulisan sebelumnya, bagian ini adalah yang tersulit. Benar adanya, kerinduan dan kesedihan adalah situasi yang romantis inspiratif, bahan bakar yang baik untuk menulis. Buktinya, saya pun lebih produktif menulis saat galau.

 

Menyingkat saja perjalanan kemelekatan selama 4 bulan terakhir. Di awal perjalanan saya berjuang untuk tidak membeli sebuah sepeda karena menganggap ini hanyalah jebakan hasrat konsumtif biasa. Di tengah perjalanan saya mulai melunak dan membuka opsi utk memiliki secara sementara alias meminjam dan belajar tentang memiliki tanpa melekat. Di akhir perjalanan saya mengijinkan diri saya untuk memiliki kalo memang ada jodohnya.

 

Kesimpulan saya, bila ternyata sekencang ini tarikannya mungkin memang jalannya untuk punya. Bila ternyata lebih banyak cara yang mendekatkan ketimbang menjauhkan, maka --bisa jadi, bisa tidak-- itu adalah persetujuan kehidupan. Apa-apa yang didekatkan dan dimudahkan adalah konspirasi alam semesta!

 

Setelah saya berdamai dengan situasi, benar adanya, prosesnya menjadi lebih mudah dan membahagiakan.

 

Hanya dua hari setelah masa pinjaman om jon diperpanjang, saya pun mengajukan diri untuk "meminangnya" dari sang pemilik yang budiman. Gimana cara bayarnya ya gimana nanti aja, karena kalo sudah ada tujuannya, biasanya ada pula rejekinya. Skenario terburuk, saya ga jadi travelling tahun depan karena celengannya dipecah untuk beli sepeda. Edan. 

 

Dan, pinangan saya pun ditolak, saudara-saudara. Sang pemilik nan budiman memang belum berencana menjualnya. Budiman tulen, karena beliau terbukti tidaklah seperti sangkaan beberapa orang yang meminjamkan untuk modus menjual. Salut! om Agus Sp

 

Lalu fase kesedihan pun melanda. Walau tak terucap tapi terasa cukup dalam. Inilah akhir perjalanan tante Ujie dan om Jon. Benar adanya, janganlah membuai diri dengan harapan-harapan. Karena ngarep adalah awal dari penderitaan. 

 

Saya pun menceritakan pada suami ihwal sepeda yang tidak dijual, yang semakin memantapkan hati untuk membeli. Sekedar pemberitahuan saja sih, seperti biasanya saya memberitahukan rencana berangkat travelling kemana atau mau ikut pelatihan dimana ( dengan biaya sendiri ). Dan seperti biasanya, tuan suami B Sindhu Asmoro penganut isme "hobimu, pengeluaranmu" ini tidak berekspresi. Biasa saja.

 

Dia lalu bertanya ( ini percakapan online krn beliau memang bekerja di luar kota ), "Mau beli sepeda online, nanti bayarnya pakai apa?" Jawab saya, "Pake kartu kredit. Ambil cicilan aja lah biar ringan ( aku pun berdamai dengan sistem cicilan )." Dia pun kembali tidak berekspresi. Biasa saja. Tidak mengiyakan. Tidak juga menolak.

 

Lalu saya pun mulai memproses. Pilih, isi data sesuai KARTU MILIK SUAMI ( selain kartu pribadi, saya juga memegang kartu kredit tambahan milik suami. Ini nekat dan berbahaya! Tapi kata mereka "Lebih baik menyesal setelah mencoba, daripada menyesal karena tidak pernah mencoba" ). Lalu, klik, dan tinggal menunggu kode konfirmasi dari pemilik kartu yang akan dikirim via sms.

 

Deg deg an. Bisa ya, bisa tidak, walau lebih besar kemungkinan tidak. Setidaknya saya telah mencoba.

 

Beberapa saat kemudian ada pesan masuk, isinya kode konfirmasi dari pemilik kartu.

 

Wah!! Dia setuju!!! Sampai gemetaran mengisinya di kolom.

 

Selesai bahkan tanpa drama!

Dan dua hari kemudian barangnya sampai!

Dan sampai hari ke 4 masih bengong tidak percaya!

AKU AKHIRNYA BERJODOH DENGAN SEPEDA B!

Dan di hari ke 5 baru mulai dipakai.

 

Hatur nuhun kakang Prabu. Aku padamu!

 

Terharu.

 

Alhamdulillah, segala puji pada Mu, yang Maha Indah dan Maha Melembutkan hati.

 

"Ehm. Jadi, apa pelajaran yang bisa ditarik kalo ternyata akhirnya sepeda mahal itu dibeli juga?", ejek egoku.

 

( Bersambung )

Add comment


Security code
Refresh

© Copyright  Yoga Leaf 2004 - 2016

Articles View Hits
1264690