Kontemplasi Diri: Aku & Objek-Objek Kemelekatanku ( Bagian 7 )

Percakapan batin ini terus berlanjut. Kali ini si Hasrat, yang harus diakui adalah fakta tentang sisi kelam saya, ikut meramaikan.   

 

"Ah Kesadaran memang suka begitu. Sok sederhana. Kalo memang mampu kenapa enggak beli aja? Ga usah banyak mikir. 

 

Bukankah wajar bila kita merayakan kerja keras selama ini dengan membeli sepeda seharga puluhan juta?   

 

Ayo, beli aja! Teteh keren banget tauk kalo berangkat ngajar pake sepeda itu. Semua mata akan tertuju padamu. Pengajar yoga, gaya hidup sehat, bike to work, go green, akan tambah mantap kalo sepedanya juga keren. Weitts kece ...   

 

Yang ijo itu keren banget, itu Yoga Leaf banget!   

 

Kagok lah beli yang seken. Beli yang baru dong, yang masih mulus. 

 

Udah akhir tahun nih, beli aja yang edisi 2017!   

 

Minta beliin dong sama suami! Punya istri kok disuruh beli sendiri?   

 

Maksa dong!   

 

Kalo ga dikasih, ngambek!   

 

Drama!   

 

Murka!   

 

Dan seterusnya dan selanjutnya. Dada mulai terasa panas dan sesak. Pikiran jadi sibuk. Tidak mudah menetralkannya.   

 

Untunglah beberapa saat kemudian Kesadaran, alias sang Akal Budi, sang teman, yang tidak lain adalah sisi terangku, kembali hadir dan meredakan.   

 

"Kalau kamu selalu melihat ke atas memang tidak akan ada habisnya. Coba sesekali lihat ke bawah. Masih banyak juga yang bersepeda biasa--sepeda odong-odong katamu--dan banyak juga yang tidak bersepeda dan mereka baik-baik saja. Kalau kamu sering menengok ke bawah maka kamu akan sadar betapa beruntungnya kamu."  

 

Iya juga sih. Dulu pun aku rasanya baik-baik saja. Hiks. 

 

Lanjut kesadaran, "Merasa beruntung itu tidak ditentukan dari seberapa banyak uangmu. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan karena bahagia memang tidak bisa dibeli. Itulah mengapa orang kaya belum tentu bahagia, dan orang miskin belum tentu tidak bahagia."

 

Mendengar itu aku pun tercenung. Pikiran bawah sadarku lalu memunculkan satu iklan yang pernah kulihat beberapa tahun lalu yang berbunyi 'Money can't buy happiness simply because they dont know where to shop' (Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, semata karena orang-orang tidak tahu tempat belanja yang asyik).

 

Kesadaranku--yang turut menonton tayangan iklan dalam pikiranku tersebut--ikut mengomentari;

 

"Hm, itu sih modus akal-akalan yang punya usaha. Kamu sendiri paham betapa singkatnya kebahagiaan semu dengan kepemilikan objek-objek.   

 

Aha! Tapi slogan itu bisa juga diartikan begini: Uang tidak bisa membahagiakanmu bila dipakai untuk memuaskan hasrat dan kepentinganmu pribadi. Uang hanya bisa membahagiakanmu bila dipakai untuk kepentingan selain dirimu, misalnya untuk membantu/menolong orang lain.

 

Bukankah ada slogan lainnya yang mengatakan: Bersedekah itu Menyenangkan? So, bila ingin bahagia, sering-seringlah kamu berbelanja di situ." 

 

Kok bisa sih, menolong menyenangkan? Yang ditolong dong yang senang?   

 

"Dua-duanya senang. Dalam menolong ada aspek pengorbanan. Saat kamu menolong seseorang maka pikiranmu akan Menyerah Kepada Hatimu. Monyet-monyet dalam kepalamu akan diam dan terpaku. Pikiranmu jadi semakin hening dan hatimu semakin penuh. Inilah momen cinta kasih, momen hadirnya Ilahi dalam hatimu, saat dirimu merasakan kepedulian yang tinggi terhadap sesama tanpa pamrih.   

 

Dengan berbagi, kamu menempatkan dirimu dalam posisi lebih beruntung dari orang lain dan oleh karenanya kamu akan lebih banyak bersyukur."   

 

Benar juga. Saya tidak memikirkan itu sebelumnya karena cinta buta. Mohon jelaskan lebih lanjut padaku apa itu bersyukur wahai temanku, kesadaran?   

 

"Bersyukur adalah berhitung kebaikan-kebaikan yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa padamu, hingga kamu pun akan takjub menyadari bahwa hidupmu adalah sebuah rangkaian keajaiban. Bersyukur adalah kesadaran bahwa apa pun yang tengah kamu kenakan, kamu dengar, kamu lihat, kamu rasakan, adalah wujud dari nikmat Nya. Jadi, nikmat mana yang akan kamu dustakan?   

 

Dengan bersyukur maka segala kebutuhanmu pun akan terpenuhi. Terpenuhi bukan dengan cara mendapatkan hal-hal yang kamu inginkan, tapi dengan cara memunculkan rasa ketercukupan, keterpuasam pada hal-hal yang telah kamu miliki. Tercukupkan dan terpuaskan, tanpa perlu mencapai sesuatu lebih dulu, tanpa perlu pergi ke mana dulu. Terpuaskan secara apa adanya keadaanmu saat ini."   

 

Saya menghela napas panjang. 

 

Benar juga. Sebenarnya segalanya baik-baik saja. Tidak ada yang kurang, segalanya sempurna apa adanya.

 

Dalam takzim saya mulai mengingat, dan berhitung segala nikmat Nya.   

 

Aku bersyukur, Tuhan memenuhi semua yang kubutuhkan dan semua kebutuhan keluargaku.      

 

Aku bersyukur, Tuhan memberiku kesempatan berlimpah untuk berbagi cahayaNya dengan orang-orang di sekitar.       

 

Aku bersyukur, Tuhan menjadi pusatku, tempat berpijak, dan membimbing saat aku menjadi pusat, tempat berpijak, dan membimbing orang-orang di sekitar.       

 

Aku bersyukur, Tuhan menentukan hidup dan mengampuni jika aku bersalah atau takut.       

 

Aku bersyukur, dapat melupakan dan memaafkan orang-orang di masa laluku.       

 

Aku bersyukur, Tuhan adalah damai yang mengisi hidup keluargaku.       

 

Aku bersyukur, Tuhan ada di balik semua yang telah terjadi dan akan terjadi hari ini.       

 

Aku bersyukur, Tuhan ada di mana pun aku melangkah hari ini.       

 

Aku bersyukur, ke mana pun melangkah, aku menuju kearah Nya.       

 

Aku bersyukur berada di sini, saat ini.       

 

Aku bersyukur Tuhan hadir di sini, saat ini.       

 

Tuhan, jadikanku senantiasa merasa penuh, tercukupkan, dan terpuaskan.   

 

Sesaat ada yang menghangat di dada, meleleh di pipi.  

 

Aku paham. Terimakasih wahai kesadaran. Ternyata aku baik-baik saja tanpa harus memiliki Sepeda berinisial B. Lega rasanya sekarang. Selesailah proses kontemplasi ini. Aku pun bisa kembali hidup normal.

Kesadaranku terheran, dan berbalik mengejek, " Siapa bilang sudah selesai?   Seperti halnya kamu harus bisa tidak melekat saat TIDAK MEMILIKI sepeda B, kamu pun harus bisa tidak melekat saat MEMILIKI sepeda B. Kamu harus bisa memandang kedua hal tersebut -- memiliki dan tidak memiliki -- dengan cara pandang yang sama."  

 

Apaaa???

 

 *#gubrak*

 

( Maaf ya, ternyata masih ada sambungannya sekali lagi :-D )

Add comment


Security code
Refresh

© Copyright  Yoga Leaf 2004 - 2016

Articles View Hits
1264733