Kontemplasi Diri: Aku & Objek-Objek Kemelekatanku ( Bagian 6 )

Seorang sahabat yang tahu ihwal demam sepeda ini mengatakan, "Akan tiba saatnya harga sepeda itu jadi wajar bagimu. Sabar aja, nanti juga kebeli". 

 

Mungkin dia gagal paham akan galau berlanjut hingga curhat berkepanjangan ini. Apa daya. Sudahlah, gak pa pa, makasi Kakak atas maksud baiknya menyemangati.   

 

Berkat pernyataan sahabat saya itu juga akhirnya pikiran melayang ke sebuah kursus mengelola keuangan yang saya ikuti beberapa tahun lalu. Dari beberapa hal yang disampaikan, ini di antaranya yang paling jleb.   

 

"Gaji pertama saya Rp.750.000,- dan saya mampu habiskan hanya dalam beberapa hari sejak hari gajian. Beberapa tahun kemudian gaji saya jadi Rp.30.000.000,- (maklum beliau CEO sebuah perusahaan besar ibukota ). Awalnya jumlah itu sangat besar. Namun ternyata hanya perlu waktu beberapa bulan hingga akhirnya gaya hidup saya meningkat, sehingga jumlah tersebut pun bisa habis dalam beberapa hari setelah gajian."

 

Gaya hidup, itu dia passwordnya! 

 

Menurut definisi subjektif saya, gaya hidup adalah: 

 

1. Hal yang membuat seseorang berjuang untuk memenuhinya, baik secara tunai maupun pinjaman. 

 

2.Hal yang menjadi latar belakang pepatah "Lebih besar pasak daripada tiang." Gaya hidup adalah pasaknya. 

 

3.Hal yang membuat sistem pembelian berjangka  ( alias cicilan, bahkan kini tanpa bunga)--sistem yang memudahkan orang-orang memiliki benda-benda yang diinginkan--semakin marak.   

Jujur saya bukan penggemar cicilan. Bagi saya cicilan hanya membantu saat membeli rumah dan bukan membeli benda-benda lifestyle. Selain itu karena berkaca dari pengalaman, beberapa kali saya merasa kesal pada barang-barang yang saya sudah bosan memakainya (misalnya HP) namun cicilannya masih lama selesainya, atau menyesal karena ternyata telah membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan.   

 

Secara singkat, Kebutuhan adalah hal-hal yang diperlukan dalam hidup, khususnya yang berkaitan dengan keperluan dasar (sandang-pangan-papan).  Keperluan tambahan (objek-objek tersier) bisa jadi kebutuhan bila dibeli atas pertimbangan fungsi/kegunaan.   

 

Sambil berguyon, seorang teman pun menimpali, " Ujie! Bukannya besok mau bawa pempek ke pertemuan? (ceritanya suami pulang ke rumah bawa oleh-oleh pempek Palembang). Artinya mesti beli minyak kan? Ga ada minyak ga bisa goreng pempek kan? Ga ada sepeda gak bisa beli minyak kan? Itu artinya BUTUH".   

Beuh. Itu mah modus.   

 

Jadi, Apa itu keinginan?   

 

Keinginan adalah kebutuhan yang dibumbui hasrat/nafsu, atau kebutuhan yang meningkat ke level selanjutnya dan dibumbui oleh selera (estetika/model/desain, dan mungkin juga kualitas ). Berikut ini contohnya; "Aku lapar nih. Aku ingin makan Pizza, tapi pizzanya harus merek X."

 

Kenapa harus pizza? Bukankah perut tidak pernah pilih-pilih isiannya? Dan kenapa harus merek X?

 

Dengan makan pizza, selain kebutuhan hidup tercukupi (perut kenyang) maka hasrat/nafsu pun terpuaskan. Jadi makan adalah kebutuhan, pizza bermerek X adalah keinginan.   

 

Pikiran super sibuk saya lalu teringat pengalaman di sebuah _retreat_ meditasi. Setiap peserta wajib memperlahan ritme kegiatannya, tidak saling komunikasi langsung atau gak langsung, tinggal di kamar sederhana, dan makan makanan sederhana yang cenderung tawar. Semua itu bertujuan untuk melatih pikiran, dan tentu saja menjinakkan nafsu.   

 

Seperti telah terjelaskan dalam tulisan sebelumnya, hasrat/nafsu adalah salah satu perangkat pikiran. Untuk bisa mengendalikan nafsu, seseorang perlu mengendalikan panca inderanya dengan cara tidak selalu menuruti keinginannya.   

 

Bila nafsu dituruti dan terpenuhi maka pikiran untuk sejenak mengalami euforia dan kepuasan semu. 

Semu, karena beberapa waktu kemudian nafsu akan kembali menuntut pemuasan lain yang lebih besar. Kecanduan.

 

Bila nafsu tidak dituruti maka pikiran bergejolak, ngambek. Terutama bagi seseorang yang sudah terbiasa mengikuti keinginan-keinginannya akan muncul efek sakaw menyakitkan. Namun segera setelah hati berdamai dengan situasi maka efek akan mulai berkurang dan pikiran pun mulai terasa luas, lapang, tenang, damai. Gejala kecanduan pun berakhir.   

 

Saya alami "sakaw yang khas" ini setiap kali memberlakukan puasa sosmed beberapa kali dalam setahun. Awalnya terasa berat pada pikiran yang berimbas pada mood dan badan, tapi setelah beberapa minggu pikiran pun menjadi lebih tenang, lebih luas, lebih hening, bahkan lebih produktif. 

 

Berminat coba?

 

Kabar baiknya, teman, selain hasrat/nafsu, pikiran pun memiliki instrumen lain bernama Akal Budi. Akal Budilah yang mampu membedakan kebaikan dan keburukan, selalu ideal, dan selalu punya nilai-nilai tinggi. Sejatinya pikiran manusia memang selalu mengalami konflik, drama, pertentangan, bahkan peperangan dahsyat antara nafsu dan budi. Perang Bharatayuda itu nyata, teman, terjadi dalam pikiran dan hatimu!

 

Kesadaran pun berkata, "Nah sekarang terserah pilihanmu. Apa kamu mau dikendalikan oleh hasrat/nafsu dirimu yang rendah, atau oleh akal budi dirimu yang luhur?   

 

Saat kelima inderamu terkuasai, saat perhatianmu tidak lagi tercerai-berai, saat hasratmu tidak lagi mendominasi maka akal budimu pun akan memegang kendali. 

 

Dalam kendali budi, pilihan-pilihanmu pun jadi lebih sederhana dan dan lebih baik. 

 

Mengapa lebih baik? 

 

Karena terbebas dari pengaruh modus-drama dari nafsu dan hasratmu.   

 

Sederhana adalah pilihan. Pilihan yang akan mendekatkanmu dengan dirimu yang lebih tinggi, Sang Akal Budi. Sederhana itu indah, karena membuatmu merasa tercukupkan dan terpuaskan secara apa adanya.

 

Baiklah kesadaran, saya paham.   

 

Lalu bagaimana cara mempertahankan kondisi tercukupkan dan terpuaskan ini, bahwa saya sebenarnya baik-baik saja, bahkan tanpa pizza bermerek X atau sepeda bermerk B tersebut?

 

Perbanyaklah bersyukur.   

Karena Syukur adalah kunci keberlimpahan.   

 

( Bersambung, ke bagian terakhir/penutup )

 

Add comment


Security code
Refresh

© Copyright  Yoga Leaf 2004 - 2016

Articles View Hits
1264729