Parenting Yoga: Harmonisasi Tubuh, Pikiran, Hati Saat Mendampingi Anak 

Sabtu pagi 15/10 yang lalu saya berkesempatan mengajar Special Class di Jagad Alit -Waldorf Bandung sambil mengajak anak saya Kamala (7 tahun). Tidak sengaja diajak sebenarnya. Pagi itu ia menuntut haknya - sedikit rewel - untuk bisa bersama ibunya di akhir pekan ( yg sudah terjajah beberapa minggu sebelumnya karena berbagai acara pelatihan ). Ya sudahlah, ayo, let s go Kamala!

 

Kebetulan tempat mengajar saat itu adalah 'sekolahan' jadi saya pikir ada banyak hal yang bisa menarik perhatiannya bila ia merasa bosan.

 

Bagaimanapun, mengajak anak kedalam kelas saat mengajar tentu saja ada resiko. "Mengasuh sambil mengajar" berarti saya tidak bisa berharap ia akan tenang di sepanjang sesi ( namanya juga anak-anak ). Saya harus lebih waspada - bukan kuatir - karena ada kemungkinan terganggunya perhatian saya, yang berpotensi mempengaruhi kualitas kelas yang tengah disampaikan. 

 

Intinya saya harus penuh perhatian pada anak saya, dan sekaligus, terutama, pada seluruh peserta yang hadir di kelas saya. Menjadi multitasker sejati!

 

Sebelum mengajar saya sempat menjelaskan pada kamala bahwa mama akan mengajar yoga selama 1 jam lebih. Kalau nanti ada yang bisa menemaninya atau ada peserta yang membawa anak maka ia akan bermain di luar selagi mama mengajar, tapi kalau tidak ada siapapun maka ia boleh ikut didalam kelas. 

 

Tentu saja, saya juga sempat memberi peringatan halus padanya. Sambil memeluknya saya katakan, " Kamala nanti kalo ikutan kelas mama ikut aja sebisanya ya? Kalo cape atau bosen gapapa berenti dulu. Boleh juga jalan-jalan di sekitar situ. Ga boleh gangguin murid-murid mama ya?".

 

Ini adalah pertama kalinya Kamala ikut saya mengajar di dalam kelas. Kelas pun berjalan dengan baik dan hanya ada dua insiden terjadi di dalam kelas . Pertama saat Kamala haus di tengah kelas dan meminta minum. Kedua saat kemudian ia menumpahkan minumannya. 

 

Nyaris tanpa gangguan! Sambil meninggalkan catatan bagi saya bahwa lain kali jangan lupa bawa botol minum sendiri dan pastikan setelahnya di tutup rapi dan di simpan di tempat yang tidak mudah tersenggol.

 

Memang itu sudah satu paket, bukan? Membawa anak bekerja artinya harus berhubungan dengan hausnya, laparnya, ingin pipis/pupnya, rewelnya, gak sabarnya dan sebagainya. Saat dua hal itu terjadi sebenarnya tidak mengejutkan sama sekali. Yang mengejutkan itu justru kalo tidak ada gangguan.

 

Saya memiliki sikap bekerja "Persiapkan sebaik mungkin dan mengalir saat menjalankannya". Jadi setelah menyelesaikan lesson plan, tinggal pasrah dan bening saat menjalaninya. Apapun yang akan terjadi saat menjalaninya ya memang sudah bagian saya. Hadapi saja, tanpa banyak bereaksi atau penolakan. Selesaikan.

 

Dengan membeningkan diri saya pun lebih mudah terhubung dengan apa yang dirasakan kamala, berempati pada apa yang membuatnya tidak nyaman, dan memutuskan dengan tepat apa yang bisa membuatnya kembali nyaman.

 

Anak minta minum. Ambilkan saja minuman.

Anak menumpahkan minuman. Ambillah lap dan bersihkan.

 

Lakukan apa yang perlu dilakukan dan jangan pernah berkonflik dengan situasi apapun. Kooperatif lah dengan situasi maka anda akan lebih cepat lepas darinya.

 

Membeningkan diri juga memudahkan saya untuk terhubung dengan yang lainnya yang hadir di situ. Terhubung dengan apa yang mereka rasakan dan memutuskan apa yang tepat dilakukan.

 

Murid-murid akan paham, karena mereka juga adalah seorang ibu dan ayah, om dan tante dari seorang anak yang masih perlu dibantu keperluannya. Tapi selama itu berlangsung, pastikan mereka terus berkegiatan. Ayo tahan lebih lama posisinya! :-)

 

Dalam kebeninganlah saya mampu melayani anak sambil memastikan lesson plan tereksekusi dengan baik.

 

Sejujurnya, saya bukanlah seseorang yang sudah tenang 'built-in' dari sananya. Saya adalah seseorang dengan karakter Vata - Angin - yang dengan mudahnya menjadi angin ribut ( panik, kuatir, stres ) dalam kondisi tidak seimbang, misalnya saat lelah atau tertekan. 

 

Lewat latihan keheningan dalam yoga dan meditasi, saya belajar mengenali diri termasuk mempelajari reaksi-reaksi diri saat menghadapi situasi-situasi tertentu. Dari situlah saya menyimpulkan bahwa saya memerlukan tindakan-tindakan antisipatif agar lebih siap menghadapi situasi - situasi keseharian yang sering kali tak terduga.

 

Tindakan antisipatif saya meliputi menjaga kesegaran dan kesehatan tubuh  dengan berolahtubuh teratur, tidur teratur, makan teratur. Kondisi tubuh mempengaruhi kondisi pikiran dan mood/hati. Bila tubuh kecapean maka bawaannya mumet/males mikir dan ga sabaran. Tubuh yang segar dan nyaman akan menginduksi pikiran lebih tenang dan hati tentram.

 

Begitu juga pikiran dan hati. Sebisa mungkin beban pikiran dan hati diendapkan, diuraikan setiap hari. Agar hati tidak menjadi sensitif dan reaktif berlebihan terhadap gangguan-gangguan kecil keseharian. 

 

Saat saya bisa mempertahankan ritual latihan harian saya maka saya berada dalam keseimbangan yang baik, ibarat angin sejuk yang menenangkan. Ada kalanya juga saya malas berlatih, latihan saya terbengkalai, dan saya pun kembali ke kondisi angin ribut.

Menjadi ibu adalah tantangan, karena Ibu adalah manusia biasa yang dituntut untuk menjadi luar biasa. Mempelajari diri sendiri adalah langkah awal untuk mengenali diri, dan akhirnya bersahabat dengan diri. 

 

Saat anda merasa nyaman menjadi diri sendiri, maka anda akan merasakan ketenangan yang luas dan tidak akan menolak terhadap situasi apapun. Anda akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan siapapun dan mengalir lembut di antara situasi-situasi tak terduga dalam hidup.

 

 

Add comment


Security code
Refresh

© Copyright  Yoga Leaf 2004 - 2016

Articles View Hits
1264728