Kontemplasi Diri: Aku & Objek-Objek Kemelekatanku ( Bagian 5 )

Teman, saya akui memang akhir-akhir ini saya sering membuka situs yang memuat info tentang sepeda mahal itu, atau bolak-balik ke toko sepeda untuk servis ( sekalian liat-liat sepeda lainnya, berakhir dengan kepengen), atau bolak balik ke toko asesoris sepeda (tak pernah pulang dengan tangan kosong). 

 

Rasanya penuh inspirasi banget sepulang dari toko sepeda itu. Seperti ada semangat yang bangkit, semacam jadi punya tujuan, cita-cita, mimpi. Tapi kok, di saat yang sama, saya merasa hilang ketenangan dan kekhusyukan ya?

 

Sekarang di mana pun ingatnya sepeda. Di jalanan liat orang ga kenal sepedahan aja jadi nelaah sepedanya, padahal sebelum kena demam sepeda ini boro-boro merhatiin.

 

"Hm, sudah kuduga", kata si kesadaran. Berikut ini hingga selesai adalah "sabda" si kesadaran.

 

Pahamilah bahwa seseorang yang sedang belajar menata pikiran dan meniti keheningan diri tidak bisa punya hobi window shopping di saat bersamaan. Bukannya meraih ketenangan, pikiranmu malah bertambah sibuk. Monyet-monyet di kepalamu bertambah gaduh.

 

Mata, telinga, mulut, lidah, kulit adalah pintu persepsimu terhadap dunia eksternal, pintu keluar masuknya Perhatian.

 

Ibaratnya, Perhatian adalah seekor anjing setia yang selalu mengejar ke mana pun TUANnya--ke lima indera--melempar tulang. Lempar tulang ke sini dia kejar, lempar tulang ke sana pun dia kejar.

 

Indera penglihatanmu saat ini tengah tertarik dengan objek bernama sepeda. Ketertarikan yang mungkin ada karena akumulasi memori, atau represi keinginan yang baru kali ini bisa terwujud.

 

Itu membuat matamu sangat sensitif dengan objek sepeda. Bertemu sepeda jelek saja langsung nengok memerhatikan, apalagi bila memang bertemu dengan sepeda lipat idaman bermerek Mas Bromjon.

 

Sadarkah bila kegandrungan pada sepeda ini sebenarnya sama dengan gejala jatuh cinta pada seseorang?

 

Perhatikan kemiripan polanya: awalnya kamu melihatnya melintas di satu momen yang tepat, lalu kamu membuat penilaian bahwa dia sesuai selera dan kriteriamu, lalu kamu rencanakan berbagai modus untuk bisa lebih sering bertemu dan melihatnya, lalu kamu jadi berharap bisa memilikinya, lalu kamu jadi bulan-bulanan pengharapan, keputusasaan, dan ketidakjelasan. 

 

Bila keinginanmu tidak tercapai maka kamu akan terluka, marah, menderita. Bila keinginanmu tercapai kamu akan gembira walau sebentar, lalu mungkin kamu akan merasa biasa saja, atau bosan, atau kecewa, atau justru akan melekat berlebihan, posesif pada apa yang kamu percayai sebagai milikmu. Kamu pun tetap akan menderita.

 

Kuasai kelima inderamu dan sadari ketenangan danau bening batinmu yang mulai terganggu saat satu pikiran dilontarkan ke dalamnya. Waspadai agar riak-riak kecil itu tidak berpotensi menjadi gelombang air bah yang merusak. 

 

Selain itu, lakukan tindakan antisipatif. Mengantisipasi jauh lebih mudah ketimbang mengatasi ketidakseimbangan yang telanjur terjadi.

 

Bagaimana caranya?

 

Menyederhanakan keinginan, karena sederhana itu indah. 

 

Kenapa?

 

( Bersambung)

 

Add comment


Security code
Refresh

© Copyright  Yoga Leaf 2004 - 2016

Articles View Hits
1264731