Kontemplasi Diri: Aku & Objek-Objek Kemelekatanku ( Bagian 3&4 )

Teman, menurut saya si pegowes pemula ini, tidaklah wajar bila bersepeda yang awalnya adalah "simple happiness" walau sekedar gowes ke mini market atau berkeliling kompleks sama anak-anak - dengan sepeda yg murah pula - lalu berkembang menjadi hal yang terlalu serius dan ambisius. 

Ambisius, karena pengejaran terhadap elemen-elemen luar ( kemasan, merek, model, dsb ) menjadi lebih asyik ketimbang kegiatan intinya dan bahkan menjurus ke konsumerisme akut.
 
Bukankah yang penting adalah bersepedanya, bukan merek sepedanya atau asesoris bersepeda? Sama halnya dengan, bukankah yg penting adalah berlatih yoganya, bukan merek matrasnya atau asesoris beryoga?
 
Seorang kawan yg adalah pegowes muda dengan jam gowes tinggi mengatakan itu bukanlah fanatisme terhadap merek. Menurutnya, nanti kalau sudah lebih sering gowes maka akan lebih terasa bedanya ( maksudnya secara kualitas).
 
Inilah yang saya pahami tentang kualitas:
- Semakin berkualitas maka harganya pun semakin mahal. 
- Semakin berkualitas maka tidak gampang rusak dan bisa digunakan dalam waktu yang lama (yakin, mau pake sepeda yang itu selamanya?)
- Semakin mahal maka semakin nyaman menggunakannya.
- Semakin nyaman maka semakin meningkatkan kepuasan memakainya.
- Semakin puas maka saya pun akan semakin bahagia.
 
Yakin?
 
Lalu teman, mengapa pengejaran ini tidak juga mengenyangkan, tapi justru membuat semakin lapar? 
 

Teman, saya sepenuhnya sadar bahwa tidak ada satu pun pencapaian dalam hidup saya yang bisa memberikan efek langgeng bahagia selamanya.

Sebut saja buku-buku itu, baju-baju itu, sepatu-sepatu itu, termasuk saat diterima di perguruan tinggi negeri favorit, mengikuti pelatihan ini dan itu, traveling kesana kemari, dan sebagainya. Semua hanya tampak indah saat belum dimiliki. Setelah tercapai, rasanya ternyata gitu-gitu aja. 

Nah, bukan tidak mungkin itu pun akan terjadi dalam perkara sepeda ini. Perhatikan polanya: Mendambakan sebuah objek - mencapainya ( YES! ) - merayakannya sebentar - menikmatinya sebentar - dilanda kebosanan - menemukan objek baru - mendambakan - dan seterusnya.

Dalam kesunyian, kesadaranku berbisik: Selamat datang dalam lingkaran hasrat yang tidak berujung. Turuti satu hasrat maka tunggu hasrat lainnya mendesak untuk dituruti juga. Bila kamu gagal mendidik diri untuk tidak selalu mengikuti keinginanmu, maka tunggulah keinginan yang akan selalu menguasaimu.

 

  

 

 

 

 

 

 

Mendisiplinkan pikiran ternyata sama dengan mendidik anak yang ngambek, memaksa ingin dibelikan mainan. Tarik ulurlah, jangan ikuti semua keinginannya, semua demi kebaikannya.

 

 

Baiklah kesadaran, lalu apa yang pertama-tama harus saya lakukan?

 

Kesadaran menjawab, "Jagalah pandanganmu. Karena dari mata turun ke hati."

 

#eaaaa

 

( Bersambung )

Add comment


Security code
Refresh

© Copyright  Yoga Leaf 2004 - 2016

Articles View Hits
1264732