Curhat Sehat Gentle Birth ( Persalinan Lembut Alami ) di Bali

Pada awal bulan Maret yang lalu, tepatnya pada tanggal 4 Maret 2012 yang lalu, saya berkesempatan  menjadi salah satu pembicara dalam seminar Gentle Birth yang diadakan oleh Rumah Sehat Madani Denpasar Bali ( yang berada di bawah LSM Dompet Sosial Madani Bali ) dan berkedudukan di Denpasar, Bali.

Dalam acara ini, selain saya ( Pujiastuti Sindhu, founder Yoga Leaf Bandung  dan penulis buku Yoga untuk Kehamilan Sehat, Bahagia, Penuh Makna) juga hadir beberapa pembicara lainnya, yaitu Bidan Yesie Aprilia ( Pengasuh www.bidankita.com, penulis buku Gentle Birth ), Ibu Brenda Lynn Ritchmond ( founder Yayasan Bumi Sehat, Dewan Penasihat Rumah Sehat Madani, tim penulis buku Gentle Birth ), dan Ibu Robin Lim ( Founder Yayasan Bumi Sehat, CNN Heroes of the Year 2011 ). Acara yang diadakan di Ulam-Ulam ( Warung Makan Pinggir Sawah ) Gianyar pada pukul 13.00 – 18.00 waktu setempat ini dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta, yang mayoritas adalah kaum perempuan dan ibu hamil ( kebanyakan ditemani oleh suaminya ) yang tinggal di Bali dan sekitarnya.

 

Secara umum, konsep acara ini adalah sharing atau curhat dari para pembicaranya. Mulai dari sharing  mengenai Gentle Birth oleh Bidan Yesie, kemudian sharing tentang yoga untuk ibu hamil ( prenatal yoga ) oleh saya, dan di ujung acara akan ada testimoni dari seorang ibu ( Ibu Brenda ) yang telah mempraktikkan Gentle Birth di ke 6 kelahiran putra-putrinya, serta sharing dari seorang pendamping kelahiran ( Ibu Robin Lim ) tentang pengalamanannya mendampingi kelahiran Gentle Birth selama lebih kurang 20 tahun.

Sharing, atau curhat, adalah kegiatan yang sangat perempuan. Konon, kaum perempuan mendapatkan empowerment melalui proses curhat diantara teman-temannya. Diharapkan, kegiatan sharing pengalaman seperti ini akan menambah pengetahuan para perempuan mengenai proses persalinan yang alami, serta menguatkan motivasi pribadi ( atau menguatkan perempuan lainnya ) untuk mengalami persalinan Gentle Birth. Jujur saja, saya pribadi pun merasakan keinginan kuat untuk kembali hamil hanya dengan mengikuti kegiatan ini, dan saya yakin yang merasakan hal ini pada hari itu tidak hanya saya 🙂

………………….

Presentasi yang baik adalah yang secara mudah dapat dicerna dan dipahami oleh pemirsanya. Itu yang saya rasakan saat seorang Yesie Aprilia, seorang Bidan, pengasuh web www.bidankita.com, dan penulis buku Gentle Birth, membawakan materinya. Ditunjang dengan gambar-gambar dan bentuk visual yang indah dan menarik, selain juga dijelaskan dengan bahasa yang tertata dengan rapi. Ada beberapa video yang ditunjukkannya untuk membuat tema Gentle Birth ini lebih mudah dipahami dalam seminar kemarin. Seingat saya ada 3 buah video.

Video pertama menunjukkan seorang ibu dari suku primitif di Afrika yang kesakitan karena tengah dalam proses melahirkan. Melahirkan di alam terbuka, mungkin di belakang rumahnya, ibu tersebut dalam posisi berjongkok dan meringis kesakitan, menanti saat anaknya siap dilahirkan ke dunia. Suaminya sesekali datang dan mengusap kepala ibu tersebut, seolah ingin memberikan dukungan moril atas proses tersebut.

Dalam adegan tersebut tertulis sub title: perhatikan gesture tubuhnya. Posisi berjongkok, seperti posisi akan buang air besar, adalah posisi yang secara naluriah paling alami untuk melahirkan. Seorang ibu akan melakukan posisi ini saat dorongan untuk melahirkan hadir. Terkadang si ibu mencondongkan tubuhnya kedepan dan belakang, atau miring ke kiri dan kanan untuk memposisikan tubuhnya ke posisi paling nyaman saat melahirkan bayinya. Dan setelah beberapa saat, ‘jatuhlah’ si bayi ke tanah, yang kemudian akan segera di tutupi dengan daun-daunan dan segera di susui oleh sang Ibu.

Apakah adegan dalam video tersebut berkesan primitif dan tidak higienis? Mungkin saja, tapi terlepas dari alam yang menjadi latar belakang proses kelahiran dalam video tersebut, proses tersebut adalah proses yang akan dialami oleh ibu yang melahirkan dimana pun di dunia ini. Dan proses kelahiran memang proses yang paling primitif ( sekaligus alami ) di sepanjang peradaban manusia.

Video yang kedua adalah video komedi tentang proses melahirkan yang modern di rumah sakit. Memang terkesan dilebih-lebihkan, menceritakan perjalanan panjang seorang ibu melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruang persalinan. Sesampainya di ruang bersalin, maka si ibu akan dikenalkan dengan seperangkan alat untuk melahirkan, dan tidak lupa juga disebutkan si ibu tak akan bisa melahirkan  tanpa bantuan seluruh alat-alat tersebut. Ini adalah komedi sindiran tentang teknologi yang diciptakan manusia dan membuat seorang ibu hamil tidak percaya diri bahwa sebenarnya tubuhnya memiliki kemampuan untuk bisa melahirkan secara alami.

Video terakhir adalah video tentang proses kehamilan dan kelahiran dari seorang ibu hamil yang dibantu melahirkan oleh Bidan Yesie pada tanggal 24 Februari 2012 yang lalu. Ibu tersebut adalah seorang ibu dengan 3 kali pengalaman melahirkan. Kelahiran pertama dengan bedah Caesar, kelahiran kedua berujung dengan kematian bayi ( yang membuatnya terus dihantui rasa bersalah, bahwa kematian bayinya disebabkan oleh keteledorannya ‘melahirkan dengan bantuan bidan’ ), dan kelahiran ketiganya yang didokumentasikan kedalam video dimana ia melahirkan dengan metode water birth ditemani suaminya dan dengan bantuan Bidan Yesie.

Dalam video tersebut ditunjukkan saat-saat berada di dalam kolam karet berisi air hangat saat akan melahirkan. Betapa jelas prosesnya, dan penuh kasih sayang, saat Bidan Yesie beberapa kali dengan nada suara yang lembut menginstruksikan sang ibu untuk berganti posisi, untuk tetap sadar dan tidak mengejan. Ya, tidak mengejan!, dan membiarkan sang buah hatinya sendiri yang mencari jalan untuk terlahir ke dunia. Saya setuju bila ini yang disebut sebagai Gentle Birth. Sangat menyentuh, mengharukan, tenang, dan alami. Semua orang yang hadir pun turut larut dalam suasana haru akan keindahan proses kelahiran manusia yang lembut dan alami tersebut.

Yang ingin disampaikan oleh Bidan Yesie adalah, proses melahirkan adalah proses yang primitif yang tidak pernah berubah sedikit pun hingga saat ini. Selalu ada harga yang harus di bayar untuk setiap intervensi teknologi dalam proses kelahiran. Dan yang terpenting, Knowledge is Power, memberdayakan ibu hamil dengan ilmu pengetahuan akan memberikannya kekuatan dan keyakinan tentang segala sesuatu yang akan dihadapinya saat bersalin kelak.

…………………………………………

Sharing berikutnya adalah tentang  yoga untuk ibu hamil sebagai satu cara untuk mendukung konsep Gentle Birth.  Dalam sesi ini saya kembali menekankan bahwa tujuan utama Gentle Birth bukanlah untuk menyelamatkan ibu dari rasa sakit akibat melahirkan. Tujuan Gentle Birth ada dua dan saling berkaitan. Yang pertama adalah memberikan calon ibu pengalaman melahirkan yang alami dan bebas trauma, dan yang kedua adalah memberikan bayi pengalaman dilahirkan secara alami dan bebas trauma.

Alami dan bebas trauma. Berbicara mengenai trauma saat melahirkan, sebenarnya saya dulu pun sempat mengalami persalinan yang traumatik di kelahiran anak pertama saya. Itu juga yang menjelaskan mengapa perbedaan usia antara anak saya yang pertama dan kedua terpaut hingga 7 tahun. Di satu sisi saya merasakan trauma saat melahirkan anak pertama saya, dan disisi lainnya tentu anak saya juga merasakan trauma yang sama dilahirkan dengan cara seperti itu. Karena ibu dan anak selalu terhubung oleh seuntai tali pusat selama kehamilannya, dimana si anak akan merasakan setiap reaksi hormonal si ibu di sepanjang kehamilan, dan akan selalu terhubung hingga saat kelahirannya. Anak akan merasakan setiap proses dalam kelahirannya. Ini terlihat dari perkembangan emosional anak pertama saya yang sering terlihat tidak merasa aman dan kurang percaya diri bila dibandingkan adiknya yang dilahirkan dalam kondisi yang lebih nyaman.

Saya juga berbagi pengalaman soal berlatih yoga untuk ibu hamil, dan apa manfaat yang dapat diharapkan dari latihan yoga selama kehamilan dan setelah persalinan. Pada dasarnya, berlatih yoga selama kehamilan akan melatih tubuh dan pikiran untuk menjadi lebih kuat dan lentur agar mudah menyesuaikan diri dengan semua perubahan yang terjadi di sepanjang kehamilan dan proses kelahiran. Dalam seminar diskusi para peserta diajak melakukan beberapa latihan singkat berlatih yoga kehamilan berupa latihan pernapasan, gerakan-gerakan ringan yang dapat dipraktikkan di saat bersalin dan latihan pemusatan perhatian ( centering ) dan meditasi.

…………………………………………………….

Sharing pengalaman ( testimony ) berikutnya disampaikan oleh Ibu Brenda Lynn Ritchmond. Beliau adalah seorang wanita kelahiran Amerika Serikat yang telah berpindah kewarganegaraan menjadi WNI, seorang mualaf, ibu rumah tangga dan wirausahawan, dan ibu dari 7 orang anak ( salah seorang anaknya adalah hasil adopsi). Dalam kesempatan tersebut, beliau berbagi tentang pengalamannya melahirkan ke – 6 orang anaknya secara Gentle Birth, dan pilihannya tersebut semata-mata didasari komitmennya terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama manusia ( anak-anak yang ia lahirkan kedunia ), dan yang terpenting adalah komitmennya terhadap Tuhan. Beliau yakin tubuh perempuan dikaruniai kemampuan luar biasa untuk bisa melahirkan anak-anak secara alami ke dunia, dan ketakutannya yang terbesar adalah ‘ semua hal di tubuh kita, yang tidak dipergunakan, maka secara alami akan hilang oleh seleksi alam karena dianggap tidak berguna’. Apa jadinya, bila dikemudian hari tubuh kita tidak bisa lagi memproduksi hormon tertentu, sehingga melahirkan pun harus dibantu suntikan hormon?

Dan terakhir adalah sharing oleh Ibu Robin Lim. Pahlawan di hati banyak orang ini ( termasuk di hati saya ) menyoroti pentingnya sentuhan kasih sayang dalam pelayanan terhadap ibu hamil  yang wajib ditunjukkan oleh semua petugas kesehatan yang menghadapi ibu hamil. Mereka wajib melayani ibu hamil dengan sepenuh hati, atau melayani dengan cinta.  Oxytocin adalah hormon cinta yang akan mengawali proses kontraksi yang akan membawa bayi ke dunia. Oxytocin tidak hanya dapat distimulasi melalui keintiman suami istri yang akan memiliki bayi, namun dapat dibantu oleh semua orang yang ada di sekitar pasangan tersebut. Perasaan cinta akan mendukung ibu untuk melahirkan lebih alami lancar, dan mendukung proses menyusui eksklusif yang lebih sukses. Anak yang lebih sehat, Ibu yang lebih sehat, keluarga yang bahagia, semuanya berawal dari prosesn persalinan yang lembut dan alami.

…………………………………….

Demikianlah sekilas sharing tentang Diskusi Sehat Gentle Birth di Bali, 4 Maret 2012 yang lalu. Ada banyak keindahan disana yang tidak mampu diurai kedalam kata-kata dalam format menulis yang penuh keterbatasan ini. Semoga tetap dapat memberikan manfaat bagi semua orang-orang yang membacanya. Sampai jumpa dalam curhat sehat lainnya, untuk lebih memberdayakan sesama perempuan melalui support dan pengetahuan!

Love,
Ujie

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of