Bike Wisdom: Solo Traveler ( Part 6 – Tamat )

Syarat utama bepergian solo (atau semi solo, dalam grup kecil) adalah anda tidak boleh lengah barang sedikit pun. Kalo lengah, ya nyasar, minimal begitu.

Ini sangat berbeda dengan tur dipandu travel agent. Anda tinggal duduk manis, sampai di tujuan, denger cerita tur guide, foto2, belanja2, makan2. Serba nyaman, serba aman, tapi seringkali membuat tidak waspada dengan lingkungan, engga hapal jalan, dan kurang interaksi dengan warga lokal.

Bila anda menyukai kenyamanan dan keteraturan, disarankan bepergian dengan travel agent. Tapi menurut saya, bepergian sendirian – solo traveling – sangatlah menarik. Ini diantaranya:

  • Bepergian sendirian artinya berpetualang. Membuat anda sangat waspada – full awareness – pada lingkungan. Ke 5 indera ( bahkan juga yg ke 6, intuisi ) akan bangkit. Anda akan berusaha mengerti tempat yang dikunjungi, akan sungguh2 belajar membaca peta, dan engga akan berani ketiduran . Anda akan mengalami setiap momen secara penuh dan “hidup”, karena merasa menjadi bagian dari segala hal yg ada di situ.
  • Karena pergi sendirian, anda akan mengeluarkan sisi terbaik dari diri anda. Anda akan meminimalkan drama2 ( bete2 ) yg suka bikin rusak perjalanan. Anda lebih antusias dan serba mempersiapkan. Anda juga akan lebih gembira bertemu orang dan senang membaur dengan orang2 lokal.
  • Bepergian dengan membawa sepeda sendiri akan menambah kenikmatan saat anda menjelajah alam dan kota. Dan tentu saja, menambah level keren beberapa derajat wahaha. Pastikan anda membawa basic kit utk bersepeda ( cadangan ban dalam, tool kit, hand pump ) dan perlengkapan keamanan bersepeda ( helm, sarung tangan, lampu sepeda ).

Siapa bilang pergi sendirian artinya engga akan ketemu siapa2 di perjalanan? Pengalaman saya beberapa kali bepergian dalam grup atau seorang diri sebenarnya sama aja rame2nya. Bedanya, kalo dalam grup rame2nya bareng temen dari kota/negara sendiri. Kalo sendirian, teman2mu adalah semua yang juga sedang dalam perjalanannya. Menarik bukan? Persilangan takdir sangat jelas terasa.

Persilangan takdir saya kali ini kebanyakan dengan orang2 Indonesia juga. Sampai saya berpikir, “Orang Indonesia ini ternyata banyak juga ya di sini”. Walau ternyata engga juga, krn beberapa dari mereka berkata baru kali itu ketemu orang Indonesia di sana.

Pertama ketemu orang Madura, Mas Sulaiman, yang sudah 5 tahun bekerja di kapal pesiar yang menurutnya seperti “Mall yang mengapung di atas lautan”.

Kedua, Bli Putu, orang Bali yang baru pertama kali ke Eropa utk bekerja. Masih muda dan sangat nervous. Ketemu Mas Sulaiman dan saya kayak ketemu sodaranya, bahagia banget. Nah, begitulah solo traveling. Kita saling membutuhkan. Coba rame2 dalam grup, pasti ga peduli sama yg lain.

Lalu ketemu mbak Ely dan suaminya mas Ikhsan ( yg ternyata adik kelas di SMAN 2 Bandung ) saat makan pagi di hotel tempat menginap di hari pertama. Mas Ikhsan Kerja di Abu Dhabi dan sedang cuti libur beberapa minggu untuk mengunjungi negara2 Skandinavia.

Orang2 Indonesia lainnya adalah bapak2 klien suami dari perusahaan migas nasional bersama tur guidenya. Menarik bisa mengenal satu persatu lewat mendengarkan cerita2 diantara makan malam tentang minat dan juga idealisme masing2.

Lalu bertemu mbak Sri yg sudah 20 tahun tinggal di Oslo, bekerja sbg kasir di supermarket yang tiba2 tanya “Mbak nya orang mana?” Gembira banget dia ketemu saya dan begitu pun saya ketemu dia ( nah, mana pernah kayak gitu di tanah air?). Sayang nih engga difoto karena takut ditegur sama managernya krn saat itu antrian yang bayar lagi panjang.

Selain itu juga interaksi dengan orang lokal. Sehingga kota, dan orang2 lokal menjadi destinasi utama anda. Anda takkan peduli lagi utk datang ke objek wisata atau ke tempat belanja. Artinya, anda bisa lebih hemat.

Itulah menariknya solo traveling. Membuat saya berpikir, bukankah seharusnya memang seperti itu menjalani hidup sehari-hari? Bukankah kita di dunia ini pun sejatinya adalah para solo traveler? yang sendirian, singgah sebentar, ketemu orang2, lalu pergi lagi? Membuat kita lebih tertarik untuk mengumpulkan kenangan dan momen, daripada sekedar benda-benda.

Betapa menariknya kalo bisa menjalani hidup sehari2 dengan semangat traveling. Dengan segenap antusiasme itu, seneng ketemu orang itu, kembali menjadi dirimu yang 100 persen, dan menjadikan setiap momen berharga seolah baru kali itu mengalaminya.

Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa bule2 itu, atau anda, atau pun saya, keranjingan traveling. Sebagai traveler (musafir) dan bukan tourist (pelancong). Karena dalam perjalanan, kita akan menemukan diri kita kembali baru. Untuk kembali pulang dengan semangat baru.

Saat ini saya sudah kembali di rumah. Bersama suami dan melepas rindu pada anak-anak. Siap untuk melanjutkan petualangan baru ( antar jemput sekolah, mengajar kelas, menulis, dll) dengan semangat baru. Di sini!

( Autumn – August 2018 )

…………………..

Anda suka artikel semacam ini? Bila ya, silakan taruh komen di bawah, mari berbagi pikiran.

  Subscribe  

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of